TUNTU DAN HAPUSKAN UJIAN NASIONAL
Ujian nasionalyang biasa di singkat UN adalah momok yang menakutkan
bagi kebanyakan pelajar,siswa, pengajar dan guru-guru di indonesia.
Standar nasional pendidikan selamaini penentuan batas kelulusan ujian
nasional di tentukan berdasarkankesepakatan antara pengambil keputusan
saja. Batas kelulusan itu ditentukansama untuk setiap mata pelajaran.
Padahal karakteristik mata pelajaran dankemampuan peserta didik tidaklah
sama. Hal itu tidak menjadi pertimbangan parapengambil keputusan
pendidikan. Belum tentu dalam satu jenjang pendidikantertentu, tiap mata
pelajaran memiliki standar yang sama sebagai standarminimum pencapaian
kompetensi. Ada mata pelajaran yang menuntut pencapaiankompetensi
minimum yang tinggi, sementara mata pelajaran lain menentukan
tidaksetinggi itu. Keadaan ini menjadi tidak adil bagi peserta didik,
karena dituntut melebihi kapasitas kemampuan maksimalnya.
Ujiannasional UN selalu menghabiskan anggaran yang tidak sedikit baik
di tingkatpusat, daerah maupun sekolah. Untuk UN tahun 2013 yang selesai
baru-baru ini dibulan April. Pemerintah pusat menganggarkan ujian
nasional yang diambil dariAPBN sebesar 644,27 milyar yang digunakan
untuk pembuatan soal, percetakan,penggandaan, dan pendistribusian
soal-soal UN (sedikit catatan lembar LJUN ditahun 2013 ini kualitasnya
sangat buruk mudah sobek jika di hapus, begitu juganaska soalnya tidak
jelas, buram seperti hasil foto copy kebanyakan).
Masing-masingpemerintah daerah juga mengeluarkan anggaran dari APBD
sebesar 10 milyar yangkatanya digunakan untuk persiapan UN, biaya
operasional pengawasan danpengawalan UN baik untuk guru-guru, pengawas
indefenden maupun aparatkepolisian dan dari pihak sekolah juga pasti
menyiapkan dan mengeluarkananggaran yang nilainya juga sampai jutaan
untuk konsumsi, transportasi dan uangsaku guru yang awasi ujian dan juga
polisi.
Karenabanyaknya dana yang di kumpulkan di
pelaksanaan UN ini, tujuan UN yangseharusnya adalah untuk
mempertahankan semangat belajar dan menanamkan nilaikejujuran ternyata
justru menyimpang dari tujuan tersebut dan berali fungsiuntuk memenuhi
kepentingan segelintir orang atau pemuas kebutuhan populeritasdan
finansial lembaga dan orang-orang yang terkait dengannya khususnya
parakapitalis. Kepentingan-kepentingan tersebut antara lain dimulai dari
parabirokrat kemendikbid, bupati, yang ingin dianggap berhasil
membangunpendidikan, lembaga yang terlibat dalam penggandaan soal
memiliki kepentingan,yang mecetak memiliki kepentingan, bisnis bimbel
memiliki kepentingan, penerbitbuku soal-soal ujian (Pihak Intan Pariwara
dan EKSIS) memiliki kepentingan danmasih banyak lagi pihak-pihak yang
berkepentingan lainnya. Akhirnya permasalahan,kisruh dan carut marut UN
seperti anggaran UN hasiil penggelembungan tak dicairkan, permasalahan
tender dari pihak pembuat soal, sampai tertundanyapelaksanaan UN di 11
privinsi. Kemudian banyaknya kecurangan-kecurangan,ketidak jujuran,
masala sosial, generasi muda yang frustasi hingga bunuh diri,semuanya
menjadi selingan dan aingin lalu. UN terus dilaksanakan tahun
ketahunpadahal sudah gagal dengan alasan proses perbaikan. Slogan Ujian
Nasional “prestasiyes, jujur harus” sebatas isapan jempol saja.
Keberadaan polisi di sekolah danCCTV di ruang ujian di beberapa daerah
semakin memperburuk citra bangsa danmencderai pendidikan itu sendiri,
siswa-siswa dan guru-guru pendidik indonesiadeberlakukan seperti penipu
yang tidak di percaya lagi. Mau di bawa kemanapendidikan negri ini ?
kejujuran di benturkan dengan berbagai kepentingan danuang, akibatnya
kejujuran rapuh dan mati suri. Jika terus begini bangsa iniakan rusak
dan semakin suram kedepanya. Generasi masa depan akan menjadigenerasi
rumput (sarri galandung), pembenar kecurangan untuk mencapai
segalakeinginan.
` SOLUSISATU-SATUNYA HAPUS UJIAN
NASIONAL (UN) DAN COPOT JABATAN MUHAMMAD NUH SEBAGAIMENDIKBUD (dalang
utama penyebab kisruh dan carut marutnya ujian nasional tahunini) !!!
ciptakan sistem evaluasi baru yang lebih ilmiah, demokratis danberbasis
kerakyatan demi efektifitas pendidikan bangsa ini. Permasalahan iniharus
di selesaikan, dan babat habis !!! buka logika kita mana mungkin
sekolahyang tidak mempunyai fasilitas memadai, tidak ada listrik,
komputer, ruanglaboraturium, dan kekurangan guru bisa di samakan dengan
sekolah yang bagus danlengkap fasilitasnya. Pendataan sekolah-sekolah
mulai dari pasilitas, guru dansebagainya sudah cukup untuk memetakan
seperti apa pendidikan Indonesia. Serahkanpendidikan kepada ahlinya !
siapa ? : adalah guru di sekolah. Guru yang berhakmenilai bahwa siapa
yang berhak lulus dari sekolah.
Terakhircoy...
Cukup sudah kita bercermin kepada angka-angka hasil UN yang tidak
adagunanya seolah penentu kecerdasan padahal penuh kekosongan.
Percayakan sajapada pendataan dan penilaian sekolah berkualitas mulai
dari fasilitas, guru dantenaga kependidikannya.
“ELEMEN MASYARAKAT
YANG MERASA DI RUGIKAN DARI PELAKSANAAN UJIANINI, MARI KITA RAPATKAN
BARISAN, GURU, ORANG TUA MURID, DAN MURID YANG DI RUGIKANAKAN TURUN
KEJALAN, KAMI AKAN MELUAPKAN TUNTUTAN KEPADA PEMERINTAH PADA TANGGAL
2 MEI MENDATANG (polewali mandar)”
Oleh: Forum Komunikasi Siswa Progresif / Zaruk