photo hhhhhhhhiii_zps9dd37855.jpeg" />  photo hhdrhhdhdrhdh_zps2794a59b.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Agustus 2015

Pekerja rel Melbourne menolak tawaran baru


Pekerja rel Melbourne menolak tawaran baru

Setelah mendapat tekanan dari pemerintah negara bagian, Komisi Fair Work dan media, Rail Tram dan Bus Union pekan lalu setuju untuk menangguhkan kereta empat jam dan pemogokan trem direncanakan untuk 21 Agustus. Keputusan serikat datang setelah Kereta Metro berjanji untuk memberikan peningkatan tawaran kesepakatan perusahaan dengan 05:00 pada tanggal 21 Agustus.

Anggota serikat bertemu di Trades Hall di jam sebelum tawaran itu karena untuk membahas kampanye kami. Sebuah mosi tidak percaya di Metro Trains dan Yarra Trem disahkan dengan suara bulat. Gerakan yang sama juga meminta pemerintah Andrews Buruh untuk berdiri dengan pekerja angkutan umum dan bukan perusahaan yang menyerang kondisi kami. Pemerintah sebelumnya telah mengatakan serikat bahwa itu akan bergabung dengan tindakan hukum yang dibawa oleh Metro Trains untuk melarang pemogokan oleh pekerja kereta api.

 
Meskipun jaminan umum perusahaan, tawaran itu akhirnya diterima oleh serikat - jam terlambat - tidak diperbaiki. Pertemuan delegasi di divisi rel serikat sebagai pada tanggal 24 Agustus untuk menolaknya. Satu menggambarkan kesepakatan rancangan sebagai "lelucon total". Aksi industri sekarang kembali di atas meja.

Metro menawarkan kenaikan gaji 14 persen selama empat tahun, dengan 5 persen ini diadakan kembali sampai tahun lalu perjanjian. Ini, dari sebuah perusahaan yang meningkatkan keuntungan sebesar 45 persen selama masa perjanjian perusahaan saat ini.

Proposal perusahaan juga memotong hari rostered off, tarif hukuman untuk paruh waktu staf stasiun dan praktek penjadwalan kereta driver didirikan '. Secara signifikan, perusahaan juga tidak mundur dari pengenalan berjalan sectorised dari sistem kereta api. Ia ingin memecah seluruh jaringan kereta api menjadi enam atau tujuh bagian yang lebih kecil. Rencana drastis merupakan upaya untuk deskill driver kereta api dan melemahkan kekuatan industri mereka. Hal ini juga menghadirkan sejumlah masalah keamanan serius.

 
Dalam serangkaian pertemuan yang diadakan pada tanggal 25 Agustus, anggota serikat juga memilih untuk menolak tawaran Metro. Sekarang kita akan membahas tindakan apa yang akan diperlukan untuk memaksa perusahaan untuk menjatuhkan klaim dan menempatkan tawaran yang layak. Hal ini jelas sekarang negosiasi itu saja tidak akan cukup.

Pekerja trem terus larangan over-waktu dan juga akan membahas tindakan lebih lanjut terhadap Yarra Trem keuangan, termasuk kemungkinan berhenti bekerja empat jam pada 27 Agustus. Pekerja trem telah menolak kenaikan gaji 15 persen selama empat tahun dengan kerugian lebih dari waktu hukuman.

Sabtu, 29 Agustus 2015

Lima Faktor Prediksi Ekonomi Global 2015

LIMA FAKTOR PREDIKSI EKONOMI GLOBAL 2015


Menyikapi akhir tahun 2014, global ekonomi menunjukkan tanda-tanda melemah dengan resiko penurunan signifikan. Kemungkinan adanya beberapa risiko tersebut akan terwujud tahun depan, meninggalkan kondisi ekonomi global memburuk dibandingkan tahun 2014. Kami membuat lima prediksi yang diperkirakan akan membentuk prospek ekonomi global pada tahun 2015 dan seterusnya.
 
Napak tilas selama tahun 2014, perkiraan kami untuk tahun 2014 adalah adanya pemulihan moderat terhadap perekonomian dunia yang memungkinkan keluar dengan tertib dari US Quantitative Easing (QE) dan kembalinya pertumbuhan global ke tingkat sebelum krisis. Namun, pada faktanya hasil yang dicapai berbeda dari harapan semula.
 
Pemulihan Amerika Serikat tidak seutuhnya merata di tahun 2014, dengan pertumbuhan negatif pada kuartal  pertama, diikuti oleh dua kuartal pertumbuhan pesat. Pemulihan awal Zona Euro tersendat, meninggalkan kondisi mata uang mendekati resesi dan risiko deflasi. Jepang tetap terjebak dalam deflasi – meskipun adanya ekspansi besar pada neraca keuangan Bank of Japan dan depresiasi signifikan pada mata uang Yen – kembali lagi jatuh dalam resesi pada kuartal ketiga.
 
Pertumbuhan Cina  tetap di angka 7 persen dengan serangkaian stimulus fiskal dan moneter, namun penurunan harga pasar selama tujuh bulan terakhir telah secara signifikan melemahkan konsumsi swasta. Emerging Markets (EMS) terus melambat ditengah penurunan harga komoditas dan  tanggapan kebijakan tidak seimbang. Perkembangan di Gulf Cooperation Council (GCC) dan Sub-Sahara Africa (SSA) tetap kuat pada perbelanjaan infrastruktur yang tinggi; akan tetapi, harga minyak baru-baru ini merosot tajam menguakkan bayangan pada momentum pertumbuhan kedepannya.
 
Selain itu, kejutan terbesar adalah terjadinya tekanan disinflasi berkelanjutan pada ekonomi global. Kami sudah mengingatkan mengenai resiko Great Deflation (lihat Economic Commentary 19 Oktober 2014). Sejak itu, resiko tersebut tampaknya mulai terbentuk. Kelemahan pada global kian melonjak dari prediksi yang mengakibatkan harga komoditas terus menurun. Berdasarkan The IMF Global Commodity Index, penurunan mencapai 17,4 persen selama dua belas bulan tercatat di November, mencerminkan penurunan harga minyak menjadi 23,2 persen dan 5,8 persen pada komoditas lainnya. Tekanan kuat disinflasi ini mungkin akan menjadi faktor penentu pada pertumbuhan ekonomi global selanjutnya.
 
Kedepannya, berikut penjelasan lima faktor yang memprediksikan pergerakan ekonomi global tahun 2015:
 
1. US Federal Reserve (FED) tidak akan menaikkan kebijakan suku bunga di tahun 2015. Tidak seperti prediksi konsensus untuk kenaikkan di kuartal kedua 2015, kami percaya tekanan global disinflasi dan penguatan mata uang US dollar berkelanjutan diprediksi akan mengarah angka inflasi menjadi nil bagi negara Amerika Serikat di tahun 2015. Hasilnya, Fed tidak memiliki rasional mendasar untuk menaikkan suku bunga sejalan dengan ekspektasi inflasi akan berada dibawah target inflasi sekitar 2 persen. Apabila Fed menaikkan kebijakan suku bunga, maka dampak terhadap ekonomi global akan memburuk siginifikan.
 
2. Zona Euro akan memasuki deflasi dan resesi. Penurunan tajam pada harga minyak belakangan ini mendorong Zona Euro ke periode resesi di tahun 2015, meskipun European Central Bank (ECB) dengan segala upaya menghindari kondisi tersebut , namun akan tetap memicu penurunan konsumsi dan investasi, sehingga timbul resesi pada mata uang secara umum.
 
3. Momentum pertumbuhan Cina melambat ditengah-tengah deflasi beresiko tinggi. Menurunnya harga pasar dan komoditas global akan terus menghambat kebutuhan domestik seiring dengan tekanan deflasi. Pihak otoritas Cina mungkin berusaha untuk menstimulasi ekonomi lebih lanjut diatas kebijakan stimulus yang ada, namun tidak cukup untuk menghindari perlambatan pertumbuhan yang signifikan.
 
4. Beberapa ekspor minyak dari EMs kemungkinan akan menimbulkan dampak krisis pada neraca keuangan. Penurunan substansial di minyak kelapa sawit (CPO) menghasilkan obligasi piutang bagi negara-negara seperti Rusia dan Venezuela. Kondisi ini membawa dampak menular di seluruh EMs sehingga besar kemungkinan untuk  insitutisi internasional menangani permasalahan yang terjadi.
 
5. Harga komoditas yang lebih rendah dan lemahnya ekonomi global dapat akan menyiratkan perlambatan dalam momentum pertumbuhan yang kuat bagi GCC dan Negara-negara SSA selaku negara pengekspor minyak; khususnya dengan harga minyak yang jatuh akan melalui pengkajian ulang implementasi program infrastruktur investasi pada dua wilayah. Negara pengecualian adalah Qatar, yang mana persiapan program World Cup untuk tahun 2022 akan tetap diimplementasikan sesuai rencana.
 
Secara menyeluruh, perkembangan global di tahun 2015 akan menurun signifikan dibandingkan tahun 2014. Berdasarkan IMF World Economic Outlook bulan Oktober 2014 lalu, tercatat global ekonomi diprediksikan meningkat dari 3,3 persen di 2014 menjadi 3,8 persen di tahun 2015. Apabila prediksi tersebut terjadi, maka kemungkinan besar perkembangan ekonomi global hanya naik dari 1,5 persen menjadi 2,0 persen. Seperti kata pepatah, “Berharap yang terbaik, persiapkan yang terburuk”.
 

Kamis, 27 Agustus 2015

Kondisi China sedang parah dan mungkin dapat menyulut krisis dunia

Kondisi China sedang parah dan mungkin dapat menyulut krisis dunia

Mata masyarakat dan investor dunia kini tertuju pada drama bangkrutnya Yunani. Namun, investor seharusnya lebih khawatir dengan apa yang terjadi di negara dengan penduduk sekitar 1,4 miliar orang dengan PDB terbesar kedua dunia, yaitu China.

Pasar saham China mulai dari The Shanghai Stock Exchange Composite Index dan Shenzhen Stock Exchange Composite Index merosot tajam mencapai 30 persen dari angka tertingginya. Ini terjadi karena kekhawatiran investor pada saham perusahaan China yang sedang mengalami gelembung atau bubble. Pemerintah China bahkan telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi anjloknya pasar saham. Namun ini malah balik menyerang pemerintah sendiri.

Regulator pada hari Minggu mengatakan bahwa mereka akan menyediakan lebih banyak modal untuk entitas dan memungkinkan pinjam uang untuk membeli margin lebih atau praktik meminjam uang untuk membeli saham. Membeli margin ini sangat berisiko.

Para ahli menyebut, naiknya pasar saham China pada awal tahun ini disebabkan karena banyaknya investor membeli saham dengan utang. Dan, ketika saham pertama mulai jatuh bulan lalu, banyak investor menjual saham mereka dengan cepat untuk membayar utang. Hal ini menjadi pemicu merosot tajamnya pasar saham China.

Bahkan kondisi ini diperkirakan bisa lebih buruk karena investor menyadari bahwa perlambatan ekonomi China mengikis keuntungan perusahaan. “Pasar saham China tidak didukung oleh fundamental negara. Sebaliknya, pasar sedang diangkat oleh pinjaman pemerintah dan manipulasi,” ucap pendiri Pento Portofolio Strategies, Michael Pento seperti dilansir dari CNN di Jakarta, Selasa (7/7/15).

Penyelamatan pasar saham juga dilakukan oleh broker China dengan membeli saham di Shanghai Composite. Namun hal ini diyakini akan menimbulkan masalah baru.

Asisten profesor bidang keuangan dari Warwick Business School di Inggris, Lei Mao mengaku khawatir dengan kebijakan pemerintah China yang dapat menggembungkan nilai perusahaan besar dengan mengorbankan banyak perusahaan kecil. Kebijakan pemerintah terbukti tidak terlalu efektif, hal ini dilihat dari Shanghai Composite yang hanya mampu naik tidak lebih dari 2 persen. Sedangkan Shenzen Composite tetap turun hampir 3 persen.

Pasar saham China tenggelam dengan cepat beberapa waktu terakhir. Apakah ini pertanda krisis ekonomi dan kekacauan seperti 2008? China saat ini adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, China adalah adalah salah satu konsumen komoditas terbesar dunia. Penurunan harga saham tentu akan mempengaruhi ekonomi dunia secara langsung.

Harga minyak dunia turun pada hari Senin kemarin dan banyak yang menyalahkan Yunani dan penurunan nilai tukar Euro. Tidak banyak yang berpikir kalau kondisi ini terjadi karena pengaruh kondisi di China.
“Lihatlah cerita yang ditulis tentang penurunan harga minyak dunia saat ini, dan mereka akan berbicara tentang bagaimana permintaan minyak turun di Yunani. Saya harus berpikir lagi, ini permintaan Yunani? menurut saya permintaan China,” ucap Direktur EverBank Global markets, Chuck Butler dalam laporannya.

Melihat kondisi China saat ini, menurut Chuck, Anda bisa mengabaikan Yunani seutuhnya. Jangan terlalu terjebak dengan berita di Eropa. China lebih berpengaruh pada ekonomi global dan bisa menyulut krisis !
Bank Indonesia mewaspadai dampak penurunan harga saham di bursa Cina terhadap Indonesia karena negara itu adalah pendorong pertumbuhan ekonomi dunia dan salah satu mitra utama perdagangan Indonesia.
“Kita harus antisipasi karena Cina jadi pusat pertumbuhan ekonomi regional dan dunia. Kalau koreksinya tajam itu bisa ada dampak dan harus diantisipasi karena ada risiko interconnected antara negara,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Rabu malam.

Agus mengatakan, pertumbuhan pasar modal di Tiongkok sangat mengagumkan dan bisa dikatakan tumbuh sudah sangat tinggi sehingga apabila tergerus sampai 30 persen sejak 12 Juni 2015 lalu, jika dibandingkan pertumbuhan selama setahun terakhir, relatif akan masih tinggi.

Namun, lanjut Agus, yang perlu diperhatikan adalah dampaknya kepada pertumbuhan ekonomi Cina itu sendiri karena akan berpengaruh besar terhadap Indonesia dan dunia seperti ditunjukkan dengan melemahnya harga komoditas dunia karena menurunnya permintaan dari Tiongkok.

“Kalau sekarang terjadi koreksi bahkan bila ada kebijakan menahan harga saham dibeli dan di-hold (ditahan) setahun ternyata tetap koreksi, kita waspadai ini. Ekonomi Cina sangat dekat dengan ekonomi Indonesia, kita mesti waspadai kalau ada perlambatan ekonomi Tiongkok,” ujar Agus.
Agus masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik pada semester dua mendatang, namun kondisi ekonomi Cina perlu lebih diperhatikan.

“Studi kita kalau pertumbuhan ekonomi Cina sampai tergerus 1 persen, dampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 0,4-0,6 persen. Jadi kita betul-betul harus perhatikan,” kata Agus.
Harga saham di Cina terus anjlok pada Rabu (8/7) lalu. Indeks Harga Saham Gabung Shanghai turun hampir 7 persen dan indeks harga saham gabungan Shenzhen turun 4 persen.
Sumber: https://berjagajaga.wordpress.com/