photo hhhhhhhhiii_zps9dd37855.jpeg" />  photo hhdrhhdhdrhdh_zps2794a59b.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />
Tampilkan postingan dengan label Teori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teori. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

Antara Lumpen Proletariat, Gelandangan, dan Pengemis

Sumber : Google Image

WARTAKAMPUS, Perspektif - Lumpenproletariat atau Proletariat Gelandangan, sesuai dengan namanya yaitu gelandangan, sifat sifatnya yang pokok adalah merusak, kriminal, tidak punya sistim ideologi tertentu kecuali mengacau, tidak mengenal disiplin apapun. Dikalangan Proletariat Gelandangan ini tentu ada pula kaum elitnya. Merampok, nyopet, nipu, dan tindakan-tindakan brutal lainnya adalah satu-satunya cara kehidupan bagi mereka. Kapitalisme terus memberikan kesempatan bagi Lumpen Proletariat untuk menjadi sedikit elit. Tapi hakekatnya tetap saja sebagai gelandangan. Jenis Proletar ini kacau pikirannya karena suka mengacau, merusak, bebas tak mengenal batas dan gaya tipikalnya yakni caci maki. Tidak punya teman kecuali dirinya sendiri karena mereka sukar di organisir atau tidak bisa mengorganisir karena tidak punya rasa disiplin.

Secara bahasa, lumpenproletariat dapat diartikan sebagai ‘orang yang berpakaian rombeng, orang jelata dan bawahan’ [Stirner dalam Lumpenproletariat, http://www.marxists.org/glossary/terms/l/u.htm]. Sementara itu, Karl Marx menajamkan pengertian lumpenproletariat sebagai “the dangerous class, the social scum that passively rotting mass thrown off by the lowest layers of the old society”, [Karl Marx dan Frederick Engels, Manifesto of the Communist Party, Moskow: Balai Penerbitan Bahasa Asing, 1959] yakni suatu kelas yang berbahaya, sampah masyarakat, yang tersingkirkan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Lumpen sendiri berasal dari bahasa Jerman yang artinya ‘kain atau pakaian yang sudah menjadi lusuh’. atau. Dapat juga secara kasar diartikan sebagai orang miskin (di kota maupun desa), gerombolan perusuh dan orang-orang buangan masyarakat industri. Mereka adalah kaum yang tidak masuk kategori proletar dan borjuis.

Keberadaannya dapat digunakan oleh politisi reaksioner maupun gerakan revolusioner, oleh karena itu posisinya dalam masyarakat tidak kuat. Lumpen proletariat adalah level terendah dari proletariat, yang biasanya menganggur, miskin, tidak memiliki kemampuan kerja, kriminal dan karakteristik mereka yang paling sering ditemui adalah ketiadaan kesadaran kelas, sebagai kelompok-kelompok yang tak akan mampu menciptakan revolusi.

Mereka tidak mempunyai pekerjaan yang jelas, keinginan untuk memperoleh pekerjaan dan hidup sebagai parasit sosial. Termasuk di dalamnya pencuri, pelacur, bandit, penjahat, penipu, gelandangan, pengangguran (dan calon pengangguran), orang yang dibuang dari industri, dan semua yang tidak masuk klas (declassed or non-class) dan taraf manapun. Kaum ini dipandang sebagai cadangan industri oleh para kapitalis. Setiap saat mereka bisa difungsikan untuk menurunkan posisi tawar buruh terhadap majikannya.

Dalam A Critique of The German Ideology, Marx menyebutkan bahwa lumpenproletariat tidak memiliki kekuasaan dan tidak terorganisasi. Termasuk di antaranya gelandangan dan pengemis. Bahkan Marx menyebutkan kedua golongan ini secara jelas dalam beberapa tulisannya. Dari definisi yang diberikan pemerintah [Lihat PP nomor 31 tahun 1980. Elizabethan Poor Law tahun 1601 yang menjadi cikal bakal undang-undang kesejahteraan sosial pun tidak memberi ruang bagi kedua golongan ini] pun kita tahu bahwa gelandangan tidak bekerja dan oleh karena itu dapat digolongkan ke dalam lumpenproletariat. Sementara pengemis dapat dimasukkan ke dalam lumpenproletariat karena mereka dianggap sebagai klas terbuang yang hanya menjadi golongan yang tersingkirkan.

Dari segi definisi dan sejarah, gelandangan sejak dahulu memiliki potensi revolusioner seperti yang diaplikasikan kaum Marxis [Seperti Mao Zedong yang memobilisir kaum petani dan gelandangan dalam revolusi di Cina. Marx sendiri tidak menyetujui turut sertanya kaum lumpenproletariat dalam revolusi]. Peneliti-peneliti masyarakat zaman tradisional mengatakan di zaman kerajaan Indonesia, rakyat memberikan dukungan mereka pada raja dengan kaki. Artinya kalau tidak senang dengan pemerintahan raja, maka salah satu cara oposisi yang paling mudah adalah dengan melarikan diri dari lingkungan kekuasaannya [Onghokham dalam Gelandangan Sepanjang Zaman, Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial, Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984. Pada zaman dahulu, definisi gelandangan masih netral, yakni diartikan sebagaimana pengembara/pengelana]. Pengemis pun memiliki potensi revolusioner pasif karena di dalam diri mereka terkandung kecemburuan sosial terhadap kaum berpunya. Jika kecemburuan ini menuju pada kesadaran klas, maka gelandangan dan pengemis membentuk kelompok sosial baru dan dengan begitu dapat menjadi basis persediaan massa untuk mewujudkan revolusi sosialis.

Meskipun begitu, lumpenproletariat dengan ketidakberdayaannya (powerlessnes) tetaplah menjadi modal politis/properti bagi kaum borjuis. Meskipun ada di antara mereka yang mengangkat pemimpin dari golongan mereka untuk menjadi penguasa klas tersebut. Namun, hal ini tidak lantas menafikan penggolongan gelandangan dan pengemis sebagai kaum lumpenproletariat. Posisi mereka sangat dilematis: di satu sisi menginginkan kesetaraan dan perubahan nasib, di sisi lain mereka tidak memiliki pekerjaan yang membuat posisi tawar mereka semakin tinggi. Gelandangan dan pengemis tetaplah lumpen yang tersisihkan dari sistem klas sosial yang dibuat Marx.

Selasa, 08 September 2015

BAB II : Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat

Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat
V.I. Lenin (1918) 

Demokrasi Borjuis dan Demokrasi Proletariat

Masalah yang dikacau-balaukan oleh Kautsky sesungguhnya adalah ini.
Bila kita tidak ingin menghina akal sehat dan sejarah, jelas bahwa kita tidak bisa berbicara mengenai “demokrasi murni” selama kelas-kelas yang berbeda eksis; kita hanya dapat berbicara mengenai demokrasi kelas. (Mari kita katakan dalam tanda kurung bahwa “demokrasi murni” bukan hanya sebuah frase yang bodoh, yang mengungkapkan ketidakpahaman mengenai perjuangan kelas dan watak negara, tetapi juga sebuah frase yang kosong, karena dalam masyarakat komunis demokrasi akan melayu dalam proses di mana ia berubah dan menjadi sebuah kebiasaan, tetapi tidak akan pernah menjadi demokrasi “murni”.)
“Demokrasi murni” adalah sebuah frase tidak-jujur dari seorang liberal yang ingin menipu para buruh. Sejarah mengenal demokrasi borjuis yang menggantikan feodalisme, dan demokrasi proletariat yang akan menggantikan demokrasi borjuis.
Ketika Kautsky membaktikan puluhan lembar halaman untuk “membuktikan” bahwa demokrasi borjuis adalah sesuatu yang progresif dibandingkan dengan abad pertengahan, dan bahwa kaum proletariat harus menggunakan demokrasi ini dalam perjuangannya melawan kaum borjuasi, ini pada kenyataannya tidak lebih dari omong kosong liberal untuk menipu buruh. Ini adalah sebuah truisme, tidak hanya bagi Jerman yang terpelajar, tetapi juga bagi Rusia yang tidak terpelajar. Kautsky sesungguhnya melemparkan debu “pintar” ke mata buruh ketika, dengan sombongnya, dia berbicara mengenai Weitling[1] dan kaum Jesuit Paraguay[2] dan banyak hal lainnya, guna menghindari berbicara mengenai esensi borjuis dari demokrasi modern, atau demokrasi kapitalis.
Kautsky mengambil dari Marxisme apa yang dapat diterima oleh kaum liberal, oleh kaum borjuasi (kritik terhadap Abad Pertengahan, dan peran historis yang progresif dari kapitalisme secara umum dan demokrasi kapitalis khususnya), dan mencampakkan, bungkam, dan mengabaikan semua yang ada di dalam Marxisme yang tidak dapat diterima oleh kaum borjuasi (kekerasan revolusioner kaum proletariat terhadap kaum borjuasi dalam usahanya untuk menghancurkannya). Inilah mengapa Kautsky, karena posisi objektifnya dan tidak peduli apa kepercayaan subjektifnya, secara tak terelakkan membuktikan dirinya sebagai seorang kacung kaum borjuasi.
Demokrasi borjuasi, walaupun adalah sebuah kemajuan historis yang besar dibandingkan dengan abad pertengahan, akan selalu terbatas, tidak lengkap, dan munafik, sebuah surga untuk yang kaya dan jebakan dan tipuan bagi yang tertindas, bagi yang miskin. Kebenaran inilah yang membentuk bagian paling penting dari ajaran Marx, yang gagal dipahami oleh Kautsky “sang Marxis”. Mengenai isu fundamental ini Kautsky memberikan “rasa bahagia” kepada kaum borjuasi, alih-alih kritik ilmiah terhadap kondisi-kondisi yang membuat setiap demokrasi borjuis sebagai sebuah demokrasi untuk kaum kaya.
Mari kita ingatkan Tn. Kautsky yang sangat terpelajar ini mengenai proposisi teoritis Marx dan Engels, yang telah begitu memalukan dilupakan oleh sang formalis (untuk menyenangkan kaum borjuasi), dan lalu kita akan jelaskan masalah ini dengan sejelas mungkin.
Tidak hanya negara zaman kuno dan feodal, tetapi juga “negara modern adalah sebuah instrumen penindasan kerja-upahan oleh kapital” (Engels, dalam karyanya mengenai negara).[3] “Karena negara hanyalah sebuah institusi transisional yang digunakan di dalam perjuangan, di dalam revolusi, untuk menekan musuh-musuh dengan kekerasan, maka adalah omong kosong besar untuk berbicara mengenai ‘negara rakyat yang bebas’; selama kaum proletariat masih membutuhkan negara, mereka memerlukannya bukan untuk kepentingan kebebasan tetapi untuk menekan musuh-musuhnya, dan segera setelah mungkin berbicara mengenai kebebasan maka negara akan berhenti eksis.” (Engels, dalam suratnya kepada Bebel, 28 Maret, 1875) “Akan tetapi, pada kenyataannya negara tidak lain adalah sebuah mesin penindas satu kelas oleh kelas yang lain, dan ini benar di dalam republik demokratis seperti halnya di dalam monarki” (Engels, Pembukaan untuk “Perang Sipil di Prancis” oleh Marx).[4] Pemilu universal adalah “alat ukur kedewasaan dari kelas buruh. Ia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menjadi lebih dari ini di bawah negara yang ada hari ini.” (Engels, dalam karyanya mengenai negara.[5] Tn. Kautsky mengulang-ulang bagian pertama dari kalimat Engels ini, yang dapat diterima oleh kaum borjuasi. Tetapi bagian kedua yang dalam italik, yang tidak dapat diterima oleh kaum borjuasi, Kautsky sang pengkhianat bungkam!) “Komune harus menjadi badan kerja, bukan badan parlementer. Ia harus menjadi badan legislatif dan eksekutif pada saat yang sama ... Alih-alih memutuskan setiap 3 atau 6 tahun anggota kelas penguasa yang mana yang akan mewakili dan menindas (ver- und zertreten) rakyat di Parlemen, pemilu universal harus melayani rakyat yang tergabungkan di dalam Komune, seperti halnya hak pilih individual melayani setiap pemilik modal dalam mencari buruh, mandor, dan akuntan untuk bisnisnya” (Marx, dalam karyanya mengenai Komune Paris, “Perang Sipil di Prancis”).[6]
Setiap proposisi di atas, yang sangat diketahui oleh Tn. Kautsky  yang sangat terpelajar ini, adalah tamparan di pipinya dan mengekspos pengkhianatannya. Di dalam pamfletnya tidak kita temukan satu pun pemahaman mengenai kebenaran-kebenaran ini. Seluruh pamfletnya adalah penghinaan terhadap Marxisme!
Mari kita lihat hukum-hukum dasar dari negara-negara modern, mari kita lihat administrasi mereka, kebebasan berkumpul, kebebasan pers, atau “kesetaraan semua warga negara di mata hukum,” dan kita akan temui di setiap langkah bukti kemunafikan dari demokrasi borjuis, yang sangat dikenal oleh setiap buruh yang sadar-kelas dan jujur. Tidak ada satu pun negara, sedemokratis apapun, yang tidak punya celah di dalam hukum mereka yang menjamin kaum borjuasi untuk bisa mengirim tentara untuk menindas buruh, untuk menyatakan hukum darurat, dan sebagainya, ketika ada “pelanggaran ketertiban umum,” dan ketika kelas tertindas “melanggar” posisi perbudakannya dan mencoba bertingkah tidak seperti budak. Kautsky dengan tanpa malu menghiasi demokrasi borjuis dan tidak menceritakan, misalnya, bagaimana kaum borjuasi yang paling demokratis dan republiken di Amerika atau Swiss menghadapi buruh yang sedang mogok.
Kautsky yang bijak dan terpelajar menutup mulutnya mengenai hal-hal ini! Politisi terpelajar ini tidak menyadari bahwa bungkam mengenai hal ini adalah hal yang hina. Dia lebih memilih untuk menceritakan kepada para buruh dongeng-dongeng mengenai demokrasi yang berarti “melindungi minoritas”. Sungguh luar biasa, tetapi inilah kenyataannya! Pada tahun 1918, pada tahun ke-5 dari pembantaian imperialis dan pencekikan para minoritas internasional (yakni mereka-mereka yang tidak mengkhianati sosialisme, seperti para Renaudel[7] dan Longuet[8], para Scheidemann[9] dan Kautsky, para Henderson[10] dan Webb[11], dan yang lainnya) di semua “negeri demokratis” di dunia, Tn. Kautsky yang terpelajar dengan manis, dengan teramat manis, menyanyikan puji-pujian mengenai “perlindungan terhadap kaum minoritas”. Mereka-mereka yang tertarik dapat membaca ini pada halaman ke-15 dari pamflet Kautsky. Dan pada halaman ke-16 individu terpelajar ini bercerita mengenai kaum Whig[12] dan Tory[13] di Inggris pada abad ke-18!
Sungguh pengetahuan yang luar biasa! Sungguh penghambaan yang teramat santun terhadap kaum borjuasi! Sungguh penyembahan dan penjilatan yang sangat beradab di hadapan kaum kapitalis! Bila saya adalah Krupp[14] atau Scheidemann, atau Clemenceau[15] atau Renaudel, saya akan membayar Tn. Kautsky jutaan dolar, memberikannya ciuman Yudas, memujinya di hadapan buruh dan menyerukan “persatuan sosialis” dengan orang-orang “terhormat” seperti dia. Untuk menulis pamflet yang menentang kediktatoran proletariat, untuk berbicara mengenai kaum Whig dan Tory di Inggris pada abad ke-18, untuk menyatakan bahwa demokrasi berarti “perlindungan terhadap kaum minoritas,” dan bungkam mengenai pogrom terhadap kaum internasionalis di republik “demokratis” Amerika, bukankah ini adalah pelayanan seorang kacung kepada kaum borjuasi?
Tn. Kautsky yang terpelajar telah “melupakan” -- secara kebetulan “melupakan”, mungkin -- sebuah “hal sepele”, yakni bahwa partai yang berkuasa di negara demokrasi borjuasi hanya memberikan perlindungan minoritas untuk partai borjuis lainnya. Sementara kaum proletariat, dalam semua isu-isu yang serius dan fundamental, mendapatkan hukum darurat atau pogrom, dan bukannya “perlindungan terhadap minoritas”. Semakin maju sebuah demokrasi, semakin mungkin pogrom atau perang sipil bila ada penyimpangan politik yang berbahaya bagi kaum borjuasi. Tn. Kautsky yang terpelajar dapat saja mempelajari “hukum” demokrasi borjuis ini dalam hubungannya dengan kasus Dreyfus[16] di republik Prancis, dengan pembantaian orang-orang Negro hitam dan kaum internasionalis di republik demokratik Amerika, dengan kasus Irlandia dan Ulster di Inggris[17], dengan penindasan terhadap kaum Bolshevik dan pogrom terhadap mereka pada April 1917 di republik demokratik Rusia. Saya dengan sengaja memberi sejumlah contoh tidak hanya pada saat perang [Perang Dunia I – Ed.] tetapi juga sebelum perang. Tetapi Tn. Kautsky lebih memilih menutup matanya dari fakta-fakta abad ke-20 ini, dan memilih menceritakan kepada buruh hal-hal penting yang luar biasa baru, menarik, dan mendidik mengenai kaum Whig dan Tory pada abad ke-18!
Mari kita ambil parlemen borjuis. Apakah Kautsky tidak pernah mendengar bahwa semakin berkembang demokrasi maka semakin parlemen borjuis ada di bawah kendali bursa saham dan bankir? Ini bukan berarti bahwa kita tidak boleh menggunakan parlemen borjuis (kaum Bolshevik menggunakan parlemen borjuis lebih baik daripada semua partai yang ada di dunia, karena pada 1912-15 kita memenangkan semua perwakilan buruh di Duma Keempat). Tetapi ini berarti bahwa hanya seorang liberal yang dapat melupakan keterbatasan historis dan watak konvensional dari sistem parlemen borjuis, seperti halnya Kautsky. Bahkan di negara borjuis yang paling demokratis, rakyat tertindas di setiap langkah menemui kontradiksi antara kesetaraan formal yang diproklamirkan oleh “demokrasi” kapitalis dan ribuan hambatan-hambatan dan akal-akalan riil yang membuat kaum proletar menjadi budak-upah. Inilah kontradiksi yang membuka mata rakyat terhadap kebangkrutan, kepalsuan, dan kemunafikan kapitalisme. Inilah kontradiksi yang diekspos oleh para agitator dan propagandis sosialisme kepada rakyat, guna menyiapkan mereka untuk revolusi! Dan sekarang ketika era revolusi telah dimulai, Kautsky memalingkan punggungnya pada revolusi dan mulai memuji-muji demokrasi borjuis yang sudah sekarat.
Demokrasi proletariat, yang mana pemerintahan Soviet adalah salah satu bentuknya, telah membawa sebuah perkembangan dan perluasan demokrasi yang tidak ada presedennya di dunia, bagi mayoritas besar rakyat tertindas dan rakyat buruh. Untuk menulis sebuah pamflet mengenai demokrasi, seperti yang dilakukan oleh Kautsky, di mana dua halaman didedikasikan untuk berbicara mengenai kediktatoran dan puluhan halaman untuk “demokrasi murni”, dan gagal menyadari fakta ini, ini berarti mendistorsi sepenuhnya kediktatoran proletariat dengan metode liberal.
Mari kita ambil kebijakan luar negeri. Tidak ada satu pun negara borjuis, bahkan yang paling demokratis sekalipun, yang melakukan kebijakan luar negeri mereka secara terbuka. Rakyat di mana-mana dibohongi, dan di Prancis, Swiss, Amerika dan Inggris yang demokratis, ini dilakukan dengan sangat luas dan dengan cara yang jauh lebih halus daripada negeri-negeri lain. Pemerintahan Soviet telah merobek kedok kebijakan luar negeri dengan cara yang revolusioner. Kautsky mengabaikan ini. Dia diam seribu bahasa mengenai ini, walaupun di era peperangan yang buas dan perjanjian-perjanjian rahasia untuk “pembagian daerah-daerah pengaruh” (yakni, untuk partisi dunia di antara bandit-bandit kapitalis) ini adalah hal yang teramat penting, karena pada inilah tergantung masalah perdamaian dan hidup mati puluhan juta rakyat.
Mari kita ambil struktur negara. Kautsky memilah-milah semua hal yang “remeh-temeh”, sampai ke argumen bahwa di bawah Konstitusi Soviet pemilu adalah “tidak langsung”. Tetapi dia gagal melihat hal yang terpenting. Dia gagal melihat karakter kelas dari aparatus negara, dari mesin negara. Di bawah demokrasi borjuis, kaum kapitalis, dengan ribuan muslihat -- yang semakin licik dan efektif dengan semakin “murninya” demokrasi – menyingkirkan rakyat dari kerja administratif, dari kebebasan pers, dari kebebasan berkumpul, dll. Pemerintahan Soviet adalah yang pertama di dunia (atau kalau mau lebih tepat, yang kedua, karena Komune Paris sudah mulai melakukan ini) yang melibatkan rakyat, terutama rakyat tertindas, dalam kerja administratif. Rakyat pekerja dihalangi dari partisipasi di dalam parlemen borjuis (mereka tidak pernah memutuskan hal-hal yang penting di bawah demokrasi borjuis, yang diputuskan oleh bursa saham dan bank-bank) oleh ribuan halangan, dan kaum buruh mengetahui dan merasakan, melihat dan menyadari sepenuhnya bahwa parlemen borjuis adalah institusi yang asing bagi mereka, instrumen penindasan terhadap kaum buruh oleh kaum borjuasi, institusinya kelas yang memusuhi mereka, institusinya kaum minoritas yang mengeksploitasi.
Soviet adalah organisasi langsung dari rakyat pekerja yang tertindas, yang membantu mereka untuk mengorganisir dan mengurus masalah-masalah mereka dengan berbagai cara. Dan di dalam soviet, kaum pelopor rakyat pekerja tertindas, yakni kaum proletar urban, diuntungkan karena mereka tersatukan oleh pabrik-pabrik besar. Lebih mudah bagi mereka untuk memilih dan mengontrol orang-orang yang mereka pilih. Bentuk organisasi soviet secara otomatis membantu menyatukan semua rakyat tertindas di sekitar kaum pelopor mereka, yakni kaum proletariat. Aparatus borjuis lama – birokrasi, privilese kekayaan, privilese pendidikan borjuis, privilese koneksi sosial, dsb. (semua privilese riil ini semakin beragam bentuknya dengan semakin berkembangnya demokrasi borjuis) -- semua ini menghilang di bawah bentuk organisasi soviet. Kebebasan pers berhenti menjadi sebuah kemunafikan, karena percetakan dan stok kertas direbut dari tangan borjuasi. Hal yang sama juga berlaku untuk bangunan-bangunan terbaik, istana-istana, vila-vila dan rumah-rumah bangsawan. Kekuasaan Soviet menyita ribuan bangunan-bangunan terbaik ini dari tangan kaum penindas dengan satu pukulan, dan dengan ini membuat hak untuk berkumpul, yang tanpanya maka demokrasi adalah palsu, satu juta kali lebih demokratik bagi rakyat. Pemilu-pemilu tidak langsung ke Soviet-soviet non-lokal membuat lebih mudah menyelenggarakan kongres-kongres Soviet. Mereka membuat seluruh aparatus lebih murah, lebih fleksibel, lebih mudah dijangkau oleh buruh dan tani di saat ketika situasi bergejolak dan kita harus bisa dengan cepat me-recall seorang perwakilan soviet kita atau mendelegasikannya ke kongres umum Soviet-soviet.
Demokrasi proletariat satu juta kali lebih demokratik dibandingkan demokrasi borjuis manapun; kekuasaan Soviet satu juta kali lebih demokratik dibandingkan dengan republik borjuis yang paling demokratik.
Kalau kita gagal menyadari ini, ini berarti entah kita dengan sukarela melayani kaum borjuasi atau kita bebal secara politik seperti paku, tidak mampu melihat kehidupan yang riil dari balik halaman buku-buku borjuis yang penuh debu, dipenuhi dengan prasangka-prasangka demokrasi-borjuis, dan oleh karenanya secara objektif mengubah diri sendiri menjadi seorang kacung borjuasi.
Kalau kita gagal menyadari ini, ini berarti kita tidak mampu mengedepankan masalah ini dari sudut pandang kelas-kelas yang tertindas:
Apakah ada satu negeri pun di dunia ini, bahkan di antara negeri-negeri borjuis yang paling demokratik sekalipun, di mana buruh jelata, buruh tani jelata, atau semi-proletar di pedesaan (yakni, perwakilan dari kaum yang tertindas, dari mayoritas besar populasi), menikmati kebebasan untuk menyelenggarakan pertemuan di gedung-gedung terbaik, kebebasan untuk menggunakan percetakan terbesar dan stok kertas terbesar untuk mengekspresikan gagasan mereka dan mempertahankan kepentingan mereka, kebebasan untuk mengedepankan perwakilan dari kelasnya sendiri untuk mengurus dan “membentuk” negara, seperti di Soviet Rusia?
Tn. Kautsky tidak akan dapat menemukan di negeri manapun bahkan satu dari seribu buruh atau buruh tani yang maju yang tidak tahu jawaban dari pertanyaan di atas. Mengikuti insting mereka, dari mendengar sepotong-sepotong kebenaran dari pers borjuis, kaum buruh dari seluruh dunia bersimpati dengan Republik Soviet karena mereka menganggapnya sebagai demokrasi proletariat, sebuah demokrasi untuk yang miskin, dan bukan demokrasi untuk yang kaya, yang sesungguhnya adalah demokrasi borjuis, bahkan yang terbaik sekalipun.
Kita diperintah (dan negara kita “dibentuk”) oleh para birokrat borjuis, oleh para anggota parlemen borjuis, oleh para hakim borjuis – ini adalah kebenaran yang sederhana, jelas, dan tidak dapat diganggu gugat, sebuah kebenaran yang dikenal oleh puluhan dan ratusan juta rakyat dari kelas-kelas tertindas dari pengalaman mereka sendiri, pengalaman yang mereka rasakan dan jalankan setiap hari.
Akan tetapi, di Rusia, mesin birokrasi ini telah sepenuhnya dihancurkan dan diluluhlantakkan; para hakim yang lama telah diusir, parlemen borjuis telah dibubarkan – dan perwakilan yang jauh lebih mudah diakses telah diberikan kepada buruh dan tani; Soviet-soviet mereka telah menggantikan para birokrat, atau Soviet-soviet mereka telah diberi kuasa untuk mengendalikan para birokrat, dan Soviet-soviet mereka telah diberikan otoritas untuk memilih para hakim. Fakta ini sendiri saja sudah cukup bagi semua kelas-kelas yang tertindas untuk mengakui bahwa kekuasaan Soviet, yakni bentuk kediktatoran proletariat yang sekarang, adalah satu juta kali lebih demokratis dibandingkan republik borjuis yang paling demokratis.
Kautsky tidak memahami kebenaran ini, yang begitu jelas bagi setiap buruh, karena dia telah “melupakan” untuk bertanya: demokrasi untuk kelas yang mana? Dia berbicara dari sudut pandang demokrasi “murni” (yakni demokrasi non-kelas? atau demokrasi yang di atas kelas?). Dia berargumen seperti Shylock: “satu pon daging saya” dan tidak lebih[18]. Kesetaraan bagi semua warga negara – kalau tidak demikian, maka ini bukan demokrasi.
Kita harus bertanya kepada Kautsky “sang Marxis” dan “sang Sosialis” yang terpelajar ini:
Apakah mungkin bisa ada kesetaraan antara yang tereksploitasi dan yang mengeksploitasi?
Sungguh memalukan kalau pertanyaan seperti ini harus ditanyakan dalam mendiskusikan buku yang ditulis oleh pemimpin ideologi Internasional Kedua. Tetapi “setelah siap untuk membajak, tidak boleh menoleh ke belakang,”[19] dan setelah memulai menulis mengenai Kautsky, saya harus menjelaskan kepada orang terpelajar ini mengapa tidak mungkin bisa ada kesetaraan antara yang tereksploitasi dan yang mengeksploitasi.

 

 


BAB I : Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat

Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat
V.I. Lenin (1918)

Bagaimana Kautsky Mengubah Marx Menjadi Seorang Liberal

Persoalan fundamental yang didiskusikan oleh Kautsky dalam pamfletnya adalah  esensi utama dari revolusi proletariat, yakni kediktatoran proletariat. Ini adalah persoalan yang mempunyai arti penting terbesar bagi semua negeri, terutama bagi negeri-negeri yang maju, terutama bagi negeri-negeri yang sedang berperang, dan terutama pada saat ini. Seseorang bisa berkata tanpa ketakutan untuk melebih-lebihkan bahwa kediktatoran proletariat merupakan problem kunci dari semua perjuangan kelas proletar. Oleh karena itu, amat penting untuk memberikan perhatian khusus terhadap masalah tersebut.
Kautsky merumuskan persoalan ini sebagai berikut: “Perbedaan antara dua aliran sosialis (yakni kaum Bolshevik dan kaum non-Bolshevik) adalah perbedaan antara metode-metode yang sangat berbeda: metode diktatorial dan metode demokratis” (hal. 3).
Marilah kita ingat lagi, bahwa ketika Kautsky menyebut kaum non-Bolshevik di Rusia (yakni kaum Menshevik dan kaum Sosialis-Revolusioner) kaum sosialis, ia dibimbing oleh nama mereka, yakni oleh sebuah kata, dan bukan oleh tempat yang sesungguhnya mereka tempati di dalam perjuangan antara kaum borjuasi dan kaum proletar. Betapa indahnya pemahaman dan penerapan Marxisme yang seperti demikian! Tetapi saya akan menjelaskan lebih jauh tentang ini nanti.
Untuk saat ini, kita harus menghadapi masalah yang utama, yakni penemuan Kautsky yang terbesar mengenai “perbedaan fundamental” antara “metode demokratis dan metode diktatorial”. Inilah problem yang terutama; inilah esensi dari pamflet Kautsky. Dan ini sungguh merupakan kekacauan teoritis yang begitu buruk, penolakan yang sepenuh-penuhnya terhadap Marxisme, di mana Kautsky, harus diakui, telah begitu jauh melebihi Bernstein.
Persoalan kediktatoran proletariat adalah persoalan relasi negara proletariat terhadap negara borjuis, relasi demokrasi proletariat terhadap demokrasi borjuis. Kita mungkin dapat berpikir bahwa ini begitu jelas dan mudah. Akan tetapi Kautsky, seperti seorang guru sekolah yang telah menjadi kering kerontang seperti debu karena mengutip buku-buku teks sejarah tua yang sama, dengan berkeras-hati memalingkan punggungnya ke abad ke-20 dan terus menatap ke abad ke-18, dan untuk keseratus kalinya, di dalam sejumlah paragraf, dengan cara yang sungguh membosankan bermeditasi mengenai relasi demokrasi borjuis terhadap absolutisme dan medievalisme!
Ini terdengar seperti dia sedang mengigau dalam tidur!
Akan tetapi, ini artinya ia telah sepenuhnya gagal memahami masalah ini. Kita tidak bisa tidak tersenyum melihat usaha Kautsky untuk membuat bahwa tampaknya ada orang-orang yang mengajarkan “kebencian terhadap demokrasi” (hal. IA) dan sebagainya. Inilah omong kosong yang digunakan oleh Kautsky untuk mengaburkan dan membuat masalah ini menjadi kacau-balau, karena ia berbicara seperti kaum liberal, berbicara tentang demokrasi secara umum, dan bukannya tentang demokrasi borjuis; bahkan ia menolak menggunakan istilah kelas yang jelas ini, dan sebaliknya ia berusaha berbicara tentang demokrasi “pra-sosialis”. Pembual ini menghabiskan sepertiga dari pamfletnya, atau dua puluh halaman dari enam puluh tiga halaman pamfletnya, untuk omong kosong ini, yang begitu menyejukkan hati kaum borjuasi karena ini pada akhirnya sama dengan menghiasi demokrasi borjuis, dan mengaburkan masalah revolusi proletariat.
Namun, bagaimanapun juga, judul dari pamflet Kautsky adalah “Kediktatoran Proletariat”. Semua orang tahu, bahwa inilah esensi yang paling mendasar dari doktrin Marx; dan setelah sekian banyak omong kosong yang tidak relevan Kautsky merasa berkewajiban mengutip kata-kata Marx tentang kediktatoran proletariat.
Akan tetapi cara bagaimana Kautsky, “sang Marxis”,  mengutip Marx sangatlah konyol!  Coba dengar ini:
“Pandangan ini (yang Kautsky sebut “kebencian terhadap demokrasi”) “bersandar pada sebuah kata tunggal dari Karl Marx.” Inilah yang Kautsky katakan secara harfiah pada halaman 20. Dan pada halaman 60, hal yang sama diulang kembali, bahkan dalam bentuk bahwa, mereka (kaum Bolshevik) “secara oportunis mengungkit kembali kata kecil ini” (inilah yang secara harfiah Kautsky tulis - des Wörtchens!!) “tentang kediktatoran proletariat yang dipergunakan oleh Marx sekali saja pada tahun 1875 dalam sebuah surat“.
Inilah sedikit “kata kecil” dari Marx tersebut:
“Di antara masyarakat kapitalis dan komunis ada sebuah periode transformasi revolusioner dari masyarakat kapitalis ke masyarakat komunis. Bersamaan dengan ini terdapat juga sebuah periode transisi politik di mana negara haruslah berupa kediktatoran proletariat yang revolusioner”
Pertama-tama, untuk menyebut pemikiran Marx klasik ini, yang menyimpulkan seluruh ajarannya yang revolusioner, sebagai “sebuah kata tunggal” dan bahkan “sebuah kata kecil” adalah penghinaan dan penolakan penuh terhadap Marxisme. Kita tidak boleh lupa kalau Kautsky paham betul tentang Marx, dan menimbang dari semua yang telah dia tulis, dia memiliki di mejanya, atau di kepalanya, sejumlah laci di mana semua yang pernah ditulis oleh Marx telah diarsipkan dengan hati-hati supaya dengan mudah dapat digunakan sebagai kutipan. Kautsky mestinya tahu bahwa baik Marx maupun Engels, dalam surat-suratnya sebagaimana juga karya-karyanya yang dipublikasikan, berulang kali berbicara tentang kediktatoran proletariat, sebelum dan terutama setelah Komune Paris. Kautsky harusnya tahu bahwa formula “kediktatoran proletariat” adalah formulasi yang lebih konkret secara historis dan lebih tepat secara ilmiah mengenai tugas-tugas kaum proletariat untuk “menghancurleburkan” mesin negara borjuis. Inilah yang dinyatakan oleh Marx dan Engels selama 40 tahun antara 1852 dan 1891 dalam menyimpulkan pengalaman revolusi 1848, dan terlebih lagi, revolusi 1871.
Kemudian bagaimana menjelaskan distorsi yang begitu dahsyat terhadap Marxisme yang dibuat oleh Kautsky, sang Marxis formalis itu? Sehubungan dengan akar filsafat dari fenomena ini, ini adalah substitusi dialektika dengan eklektisme dan sofisme. Kautsky adalah ahli substitusi seperti ini. Berangkat dari sudut pandang politik praktis, ini adalah ketundukan terhadap kaum oportunis, yakni pada analisa terakhir adalah ketundukan terhadap kaum borjuis. Semenjak pecahnya perang, Kautsky telah tumbuh pesat dalam seni menjadi seorang Marxis dalam kata-kata dan antek kaum borjuis dalam perbuatan, hingga ia sekarang telah menjadi ahlinya.
Kita akan merasa bahkan lebih yakin tentang ini bila kita periksa betapa hebatnya Kautsky dalam “menginterpretasi” “kata kecil” Marx tentang kediktatoran proletariat. Perhatikan hal berikut ini:
“Sayangnya Marx lalai menunjukkan kepada kita dengan lebih terperinci tentang bagaimana ia membentuk konsep kediktatoran ini…(Ini adalah sebuah kalimat yang sungguh-sungguh palsu dari seorang pengkhianat, karena Marx dan Engels sesungguhnya telah memberikan kepada kita sejumlah indikasi yang sangat detil, yang mana Kautsky, sang Marxis formalis, telah dengan sengaja mengabaikannya.) “Secara harfiah, istilah kediktatoran bermakna penghapusan terhadap demokrasi. Namun tentunya juga secara harfiah istilah ini juga bermakna kekuasaan absolut dari seorang individu yang tidak dibatasi oleh satu hukum pun -- sebuah autokrasi yang berbeda dari despotisme hanya jika kediktatoran ini bukan sebuah lembaga negara yang permanen, melainkan kebijakan darurat sementara.
“Istilah kediktatoran proletariat, oleh karenanya bukan kediktatoran dari seorang individu, tetapi kediktatoran kelas yang dalam dirinya sendiri (ipso facto) menghindari kemungkinan bahwa Marx dalam hal ini memikirkan kediktatoran secara harfiah.
“Di sini dia tidak berbicara mengenai bentuk pemerintahan, tetapi mengenai sebuah kondisi yang harus muncul ketika proletariat telah meraih kekuasaan politik. Bahwa Marx dalam hal ini tidak berbicara mengenai bentuk pemerintahan terbukti oleh fakta bahwa dia berpendapat bahwa transisi di Inggris dan Amerika dapat terjadi dengan damai, yakni dengan cara demokratis.” (hal. 20)
Kita telah dengan sengaja mengutip argumen ini sepenuhnya sehingga pembaca dapat melihat dengan jelas metode yang dipakai oleh Kautsky “sang teoretikus”.
Kautsky memilih untuk melakukan pendekatan terhadap masalah ini dengan memulai mendiskusikan definisi “kata” kediktatoran.
Baiklah. Setiap orang punya hak sakral untuk menggunakan pendekatan apapun yang dia kehendaki terhadap sebuah masalah. Kita hanya harus melihat mana pendekatan yang serius dan jujur, dan mana yang tidak jujur. Setiap orang yang ingin serius dalam melakukan pendekatan terhadap masalah ini harus memberikan definisinya sendiri tentang “kata” kediktatoran. Dengan demikian, masalah ini bisa ditelaah dengan sebaik-baiknya. Namun Kautsky tidak melakukan ini. Dia menulis, “Secara harfiah, kata kediktatoran bermakna penghapusan demokrasi.
Pertama-tama, ini bukanlah sebuah definisi. Bila Kautsky ingin menghindari pemberian definisi tentang konsep kediktatoran, mengapa dia memilih pendekatan seperti ini?
Kedua, yang dikatakan oleh Kautsky itu jelas salah. Adalah hal yang alami bagi seorang liberal untuk berbicara mengenai “demokrasi” secara umum; tetapi seorang Marxis tidak akan pernah lupa bertanya: “untuk kelas mana?” Setiap orang tahu, misalnya (dan Kautsky “sang sejarawan” juga tahu), bahwa pemberontakan, atau bahkan gejolak yang besar, di antara para budak pada zaman kuno dengan segera mengungkapkan bahwa negara zaman kuno itu  pada dasarnya adalah sebuah kediktatoran pemilik budak. Apakah kediktatoran ini menghapus demokrasi di antara, dan bagi, para pemilik budak? Semua orang tahu  ini tidak.
Kautsky “sang Marxis” membuat pernyataan yang betul-betul tidak masuk akal dan sama sekali tidak benar ini karena ia “melupakan” perjuangan kelas…
Agar kita dapat mengubah pernyataan Kautsky yang liberal dan keliru itu menjadi pernyataan yang betul-betul Marxis dan benar, maka kita harus berkata: kediktatoran itu tidak selalu berarti penghapusan terhadap demokrasi bagi kelas yang melaksanakan kediktatoran di atas kelas-kelas yang lain; akan tetapi ia berarti penghapusan (atau pembatasan material yang teramat ketat, yang juga merupakan salah satu bentuk penghapusan) demokrasi bagi kelas yang menjadi objek dari kediktatoran tersebut.
Akan  tetapi, sebenar-benarnya pernyataan ini, tetap saja ini tidak memberikan sebuah definisi untuk kediktatoran.
Marilah kita periksa kalimat Kautsky yang selanjutnya:
“… Tetapi, tentu saja, bila diambil secara harfiah, kata itu juga bermakna kediktatoran absolut dari seorang individu yang tidak dibatasi oleh satu hukum pun….”
Seperti seekor anjing buta yang mengendus ke sana ke mari, Kautsky secara kebetulan menemukan sebuah ide yang benar (yaitu, bahwa kediktatoran adalah kekuasaan yang tak terbatas oleh satu hukum pun). Meskipun demikian, ia gagal untuk memberikan definisi tentang kediktatoran, dan, terlebih lagi, ia membuat kesalahan besar historis yang sangat jelas, yakni bahwa kediktatoran berarti kekuasaan dari seorang individu. Ini bahkan keliru secara tata bahasa, karena kediktatoran bisa juga dilaksanakan oleh sekelompok orang, atau oleh sebuah oligarki, atau oleh sebuah kelas dan sebagainya.
Kautsky kemudian menunjukkan perbedaan antara kediktatoran dan despotisme. Meskipun yang dikatakannya jelas-jelas salah, kita tidak akan mendiskusikannya karena ini sama sekali tidak relevan untuk masalah yang kita hadapi. Semua orang tahu kecenderungan Kautsky untuk berpaling dari abad ke-20 ke abad ke-18, dan dari abad ke-18 ke zaman klasik kuno, dan kita berharap bahwa kaum proletariat Jerman, setelah mereka telah meraih kediktatorannya, akan mengingat kecenderungan Kautsky ini dan menunjuknya untuk menjadi guru sejarah kuno di sebuah sekolah tertentu. Untuk menghindari definisi kediktatoran proletariat dengan berfilsafat mengenai despotisme adalah kebodohan yang kasar atau tipu daya yang canggung.
Sebagai akibatnya, kita menemukan bahwa, setelah berdiskusi tentang kediktatoran, Kautsky mengulang-ulang begitu banyak kebohongan tetapi tidak memberikan satu definisi pun tentang kediktatoran! Alih-alih menggunakan kemampuan berpikirnya, dia bisa saja menggunakan memorinya untuk menarik dari “laci-laci dokumennya” setiap saat Marx berbicara tentang kediktatoran. Bila saja dia melakukan ini, dia tentu akan tiba pada definisi berikut ini atau yang serupa dengannya:
Kediktatoran adalah kekuasaan yang didasarkan langsung atas kekerasan dan tidak dibatasi oleh hukum apapun.
Kediktatoran revolusioner proletariat adalah kekuasaan yang dimenangkan dan dipelihara dengan penggunaan kekerasan oleh proletariat dalam melawan kaum borjuasi, kekuasaan yang tidak dibatasi oleh hukum apa pun.
Kebenaran yang sederhana ini, kebenaran yang begitu jelas ini bagi setiap buruh yang sadar-kelas (yang mewakili massa rakyat, dan bukan lapisan atas dari para bajingan borjuis-kecil yang telah disuap oleh kaum kapitalis, begitulah kaum imperialis-sosial di semua negeri), kebenaran ini, yang begitu jelas bagi setiap perwakilan dari kelas-kelas tertindas yang sedang berjuang bagi emansipasinya, kebenaran ini, yang tidak bisa diganggu gugat bagi setiap Marxis, harus “diperas dengan susah payah” dari tuan Kautsky yang terpelajar! Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Ini dapat dijelaskan dengan mudah oleh semangat penghambaan yang memenuhi para pemimpin Internasional Kedua, yang telah menjadi penjilat kaum borjuasi yang hina
Kautsky pertama-tama menggunakan tipu daya dengan mengumbar omong kosong bahwa kata kediktatoran, secara harfiah, berarti kediktatoran dari seorang individu, dan kemudian – dengan menggunakan kekuatan dari tipu daya ini – dia menyatakan bahwa “oleh karenanya” kata-kata Marx mengenai kediktatoran sebuah kelas tidak dimaknakan dalam arti harfiahnya (tetapi di dalam makna di mana kediktatoran tidak berarti kekerasan revolusioner, tetapi berarti “secara damai” memenangkan mayoritas di bawah “demokrasi” borjuis).
Kita harus membedakan antara “kondisi” dan “bentuk pemerintahan”. Sungguh perbedaan yang sangat dalam; ini seperti menggambarkan perbedaan antara “kondisi” dari kebodohan seseorang yang berpikir bodoh, dan “bentuk” kebodohannya.
Kautsky merasa perlu mengartikan kediktatoran sebagai sebuah “kondisi dominasi” (inilah ungkapan harfiah yang digunakannya di halaman selanjutnya, hal. 21), karena dengan demikian kekerasan revolusioner, dan revolusi yang penuh dengan kekerasan menghilang. “Kondisi dominasi” adalah sebuah kondisi di mana setiap mayoritas menemui dirinya di bawah ... “demokrasi”! Berkat tipu daya seperti ini, revolusi lenyap dengan mudahnya!
Akan tetapi, penipuan itu begitu kasar dan tidak akan dapat menyelamatkan Kautsky. Kita tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa kediktatoran mensyaratkan dan bermakna sebuah “kondisi”, sebuah kondisi yang begitu tidak disetujui oleh para pengkhianat, kondisi kekerasan revolusioner satu kelas terhadap kelas yang lainnya. Sangatlah konyol untuk menarik perbedaan antara sebuah “kondisi” dan sebuah “bentuk pemerintahan”. Untuk berbicara tentang bentuk pemerintahan dalam hal ini adalah sangat bodoh, karena setiap anak sekolah tahu bahwa monarki dan republik adalah dua bentuk pemerintahan yang berbeda. Kita harus menjelaskan kepada Tn. Kautsky bahwa kedua bentuk pemerintahan ini, seperti semua “bentuk pemerintahan” transisional di bawah kapitalisme, hanyalah variasi-variasi dari negara borjuis, yakni, variasi-variasi dari kediktatoran borjuis.
Terakhir, berbicara tentang bentuk pemerintahan bukan hanya sesuatu yang bodoh, tetapi juga pemalsuan yang kasar terhadap pemikiran Marx, yang jelas-jelas berbicara mengenai bentuk negara dan bukan bentuk pemerintahan.
Revolusi proletariat tidak mungkin dapat diwujudkan tanpa penghancuran paksa mesin negara borjuis, dan penggantiannya dengan negara yang baru yang, seperti yang dikatakan oleh Engels, “bukan lagi negara dalam makna kata yang sesungguhnya”.
Posisi Kautsky yang berkhianat membuat dirinya harus memungkiri dan mengaburkan semua ini.
Maka kita lihat tipu muslihat yang dipergunakannya.
Muslihat yang pertama. “Bahwa Marx dalam hal ini tidak berbicara mengenai bentuk pemerintahan terbukti oleh fakta bahwa dia berpendapat bahwa transisi di Inggris dan Amerika dapat terjadi dengan damai, yakni dengan cara demokratis.”
Bentuk pemerintahan tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini, karena ada monarki-monarki yang merupakan bentuk negara borjuis yang tidak tipikal, di mana tidak ada klik militer. Dan ada republik-republik yang cukup tipikal dalam hal ini, misalnya memiliki klik militer dan birokrasi. Ini adalah fakta historis dan politis yang diketahui secara universal, dan Kautsky tidak dapat memalsukannya.
Bila Kautsky hendak berargumen dengan cara yang serius dan jujur, seharusnya ia bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ada hukum sejarah mengenai revolusi yang tidak ada pengecualian? Dan jawabannya: tidak ada hukum seperti itu. Hukum seperti itu hanya berlaku untuk kasus-kasus tipikal, yang Marx istilahkan sebagai “yang ideal,” yakni kapitalisme yang umum, normal, dan tipikal.
Lebih jauh lagi, apakah terdapat sesuatu pada tahun 1870an yang membuat Inggris dan Amerika harus dikecualikan sehubungan dengan apa yang kita diskusikan saat ini?  Seharusnya menjadi jelas bagi setiap orang yang memahami persyaratan-persyaratan ilmiah dalam hubungannya dengan permasalahan-permasalahan kesejarahan bahwa pertanyaan ini harus diajukan. Bila kita gagal mengajukannya, ini sama halnya dengan memalsukan pengetahuan ilmiah, sama halnya dengan melakukan sofisme. Dan, setelah mengajukan pertanyaan ini, tidak ada keraguan sama sekali bahwa jawabannya adalah: kediktatoran revolusioner proletariat merupakan kekerasan terhadap kaum borjuasi; dan kekerasan semacam itu terutama menjadi sebuah kebutuhan karena keberadaan militerisme dan birokrasi, sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh Marx dan Engels berulang kali secara rinci (terutama dalam tulisan mereka “Perang Sipil di Prancis” dan dalam pengantar dari karya tersebut). Justru institusi-institusi inilah yang tidak eksis di Inggris dan Amerika pada tahun 70an, ketika Marx membuat pengamatannya (mereka sekarang eksis di Inggris dan di Amerika)!
Kautsky harus menggunakan tipu daya di setiap langkahnya untuk menutupi pengkhianatannya!
Dan perhatikan bagaimana dia secara tidak sengaja menunjukkan jati dirinya ketika dia menulis: “secara damai, yakni dengan cara yang demokratis”!
Dalam mendefinisikan kediktatoran, Kautsky berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan dari para pembaca karakter fundamental dari konsep ini, yaitu kekerasan revolusioner. Namun sekarang sudah kelihatan kebenarannya: ini adalah masalah perbedaan antara revolusi damai dan revolusi kekerasan.
Inilah duduk perkaranya. Kautsky harus menggunakan segala macam tipu muslihat, sofisme dan pemalsuan hanya untuk menyelamatkan dirinya dari revolusi kekerasan, dan untuk menyembunyikan penolakannya terhadap revolusi kekerasan dan pembelotannya ke sisi kebijakan buruh liberal, yakni ke sisi kaum borjuasi. Inilah duduk perkaranya.
Kautsky “sang sejarawan” begitu tanpa malunya memalsukan sejarah, sampai-sampai dia “melupakan” fakta fundamental bahwa kapitalisme pra-monopoli -- yang sebenarnya mencapai puncaknya pada periode 1870an -- karena karakter-karakter fundamental ekonominya, memiliki karakter yang unik, yakni secara relatif sangat berpihak pada perdamaian dan kebebasan. Imperialisme di lain pihak, yakni kapitalisme monopoli, yang akhirnya matang pada abad ke-20, karena karakter-karakter fundamental ekonominya, memiliki karakter yang paling tidak berpihak pada perdamaian dan kebebasan, yang mana perkembangan militernya mencapai tingkat tertinggi dan universal. Bila kita “gagal mempertimbangkan” ini dalam mendiskusikan sejauh mana sebuah revolusi damai atau kekerasan adalah hal yang tipikal atau hal yang memungkinkan, maka kita telah jatuh ke level seorang kacung kaum borjuasi.
Muslihat yang kedua. Komune Paris merupakan kediktatoran proletariat, namun kediktatoran itu dipilih melalui pemilu yang universal, yakni tanpa merampas hak-hak demokrasi dari kaum borjuasi, yakni “secara demokratis”. Dan Kautsky berkata dengan begitu yakinnya: “… kediktatoran proletariat bagi Marx” (atau menurut Marx) adalah “sebuah kondisi yang secara niscaya mengalir dari demokrasi murni, bila proletariat membentuk mayoritas.” (bei überwiegendem Proletariat, S. 21)
Argumen Kautsky ini begitu luar biasanya sehingga membuat seseorang menderita embarras de richesses (rasa malu karena kelimpahan ... keberatan-keberatan yang dapat dilemparkan terhadap argumen tersebut). Pertama-tama, semua orang mengetahui dengan sangat baik bahwa kepemimpinan dan lapisan-lapisan atas kaum borjuasi telah melarikan diri dari Paris ke Versailles. Di Versailles ada “sang sosialis” Louis Blanc – yang membuktikan kekeliruan dari pernyataan Kautsky bahwa “semua tendensi” sosialisme mengambil bagian dalam Komune Paris. Sungguh menggelikan kalau pembagian penduduk Paris ke dalam dua kamp yang saling memusuhi, di mana salah satunya adalah seksi borjuasi yang militan dan aktif secara politik, digambarkan sebagai “demokrasi murni” dengan “pemilu universal”.
Yang kedua, Komune Paris melancarkan perang melawan Versailles sebagai pemerintahan buruh Prancis melawan pemerintahan borjuis. Apa hubungannya “demokrasi murni” dan “pemilu universal” dengan ini, ketika Paris sedang menentukan nasib Prancis? Ketika Marx menyatakan pendapatnya bahwa Komune Paris telah melakukan sebuah kesalahan ketika ia gagal menyita bank, yang adalah milik seluruh Prancis,[1]  apa dia berangkat dari prinsip-prinsip dan praktek “demokrasi murni”?
Pada kenyataannya, jelas kalau Kautsky menulis di sebuah negeri di mana polisi melarang rakyat untuk tertawa “secara bergerombolan,” kalau tidak Kautsky sudah akan terbunuh oleh tawa ejekan.
Ketiga, mari saya ingatkan Tn. Kautsky, yang telah menghafal Marx dan Engels dengan sangat baik, penilaian berikut ini yang diberikan oleh Engels terhadap Komune Paris dari sudut pandang ... “demokrasi murni”:
“Apakah orang-orang ini” (kaum anti-otoriter) “pernah melihat sebuah revolusi? Sebuah revolusi tentunya adalah hal yang paling otoriter yang ada; sebuah tindakan di mana satu bagian dari penduduk memaksakan kehendaknya atas bagian penduduk lainnya dengan penggunaan senapan, bayonet dan meriam – yang semuanya adalah cara-cara yang sangatlah otoriter. Dan pihak yang menang harus mempertahankan kekuasaannya dengan menggunakan senjata-senjatanya yang akan mengilhami teror di antara kaum reaksioner. Apakah Komune Paris dapat bertahan lebih dari sehari jika tidak menggunakan otoritas dari rakyat yang bersenjata untuk melawan kaum borjuasi? Sebaliknya, apakah kita tidak dapat menyalahkan Komune Paris karena begitu sedikit menggunakan otoritas tersebut?”[2]
Inilah “demokrasi murni” Anda! Engels akan mencibir para borjuis kecil vulgar, para “Sosial Demokrat” (di Prancis pada tahun 1840an dan di Eropa secara umum pada 1915-1918), yang berbicara mengenai “demokrasi murni” di dalam masyarakat kelas.
Namun, cukup sampai sini saja. Mustahil untuk menyebut satu demi satu berbagai absurditas Kautsky, karena setiap kalimat yang dia ucapkan adalah sumur pengkhianatan yang tak berdasar.
Marx dan Engels menganalisis Komune Paris secara detil dan menunjukkan bahwa Komune Paris berusaha menghancurkan dan membubarkan “mesin negara yang sudah jadi”. Marx dan Engels menganggap kesimpulan ini begitu penting sehingga inilah satu-satunya perubahan yang mereka perkenalkan pada tahun 1872 ke dalam program Manifesto Komunis yang sudah (sebagian) “usang”. Marx dan Engels menunjukkan bahwa Komune Paris telah membubarkan angkatan bersenjata dan birokrasi, telah membubarkan parlementerisme, telah menghancurkan “negara, yakni bonggol yang parasitik itu”, dan sebagainya. Namun Kautsky yang bijaksana, justru mengenakan topi tidurnya, mengulang-ulang dongengnya tentang “demokrasi murni”, yang sudah diceritakan ribuan kali oleh para profesor kaum liberal.
Tidak mengherankan jika Rosa Luxemburg pada 4 Agustus 1915 menyatakan bahwa Sosial Demokrasi Jerman tak ubahnya mayat yang membusuk.
Muslihat yang ketiga. “Ketika kita berbicara tentang kediktatoran sebagai sebuah bentuk pemerintahan, kita tidak dapat berbicara tentang kediktatoran kelas, karena sebuah kelas sebagaimana yang sudah kita tunjukkan, hanya dapat berkuasa tetapi tidak memerintah…“ Hanya “organisasi” dan “partai” yang dapat memerintah.
Ini adalah sebuah kekacauan, sebuah kekacauan yang menjijikkan, Tn. “Penasihat yang kacau-balau”. Kediktatoran bukanlah sebuah “bentuk pemerintahan”; ini adalah omong kosong yang konyol. Dan Marx tidak berbicara tentang “bentuk pemerintahan” namun bentuk atau tipe negara. Ini adalah dua hal yang sangat berbeda satu dengan yang lainnya. Juga keliru kalau kita mengatakan bahwa sebuah kelas tidak dapat memerintah: absurditas seperti ini hanya dapat dikemukakan oleh seorang “kretin parlementer” yang tidak bisa melihat apa-apa selain parlemen borjuis dan tidak menyadari apapun selain “partai-partai berkuasa”. Setiap negeri di Eropa akan memberikan kepada Kautsky banyak contoh pemerintahan oleh kelas yang berkuasa, seperti misalnya, pemerintahan para tuan tanah di abad pertengahan, kendati organisasi mereka yang tidak memadai.
Pendek kata: Kautsky telah, dengan cara yang sungguh tidak ada duanya, telah mendistorsi konsep kediktatoran proletariat, dan telah mengubah Marx menjadi seorang liberal. Dalam kata lain, dia sendiri telah tenggelam ke level seorang liberal yang mengutarakan frase-frase kosong mengenai “demokrasi murni,” mengabaikan demokrasi borjuis dan mengabaikan konten kelasnya, dan di atas segalanya tidak berani berbicara mengenai penggunaan kekerasan revolusioner oleh kelas yang tertindas. Dengan “menginterpretasikan” konsep “kediktatoran revolusioner proletariat” seperti demikian, di mana dia menghapus kekerasan revolusioner dari kelas tertindas terhadap penindasnya, Kautsky telah memecahkan rekor dunia dalam mendistorsi Marx. Bernstein sang pengkhianat terlihat seperti seekor anak anjing dibandingkan dengan Kautsky sang pengkhianat.

 

 


Pendahuluan : Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat



Revolusi Proletariat dan Kautsky si Pengkhianat
V.I. Lenin (1918) 

Pendahuluan

Pamflet Kautsky[1], “The Dictatorship of Proletariat” (Kediktatoran Proletariat), yang baru-baru ini diterbitkan di Wina (Wien, 1918, Ignaz Brand, hal. 63), merupakan contoh paling jelas dari kebangkrutan Internasional Kedua yang paling memalukan, yang telah lama dibicarakan oleh semua kaum sosialis yang jujur di semua negeri. Revolusi proletariat sekarang sudah menjadi persoalan praktis di sejumlah negeri, dan oleh karenanya pemeriksaan terhadap cara-cara berpikir Kautsky yang sesat dan penuh pengkhianatan dan penolakan sepenuhnya terhadap Marxisme menjadi sangat penting.

Namun, pertama-tama harus ditekankan bahwa sejak permulaan perang [Perang Dunia Pertama – Ed.] sang penulis telah berulang kali menunjukkan perpecahan Kautsky dengan Marxisme. Sejumlah artikel yang diterbitkan antara tahun 1914-1916 di jurnal Sotsial-Demokrat[2] dan Kommunist[3], yang diterbitkan di luar negeri, membahas soal itu. Artikel-artikel ini selanjutnya dikumpulkan dan diterbitkan oleh Soviet Petrograd dengan judul “Against the Stream” (Melawan Arus), oleh G. Zinoviev[4], dan N. Lenin (Petrograd, 1918. hal. 550). Dalam sebuah pamflet yang diterbitkan di Jenewa pada 1915 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Prancis pada tahun yang sama, saya menjelaskan tentang “Kautskyisme” sebagaimana di bawah ini:
“Kautsky, pemimpin terkemuka Internasional Kedua, adalah contoh yang paling jelas dan khas tentang bagaimana sebuah pengakuan verbal terbuka terhadap Marxisme dalam prakteknya berubah menjadi “Struvisme”[5] atau “Brentanoisme”[6] (dengan kata lain, menjadi teori borjuis liberal yang mengakui adanya perjuangan “kelas” kaum proletariat yang non-revolusioner, yang mana diungkapkan dengan jelas oleh Struve, seorang penulis dari Rusia, dan Brentano, ekonom dari Jerman). Contoh lainnya adalah Plekhanov[7]. Melalui metode sofistri, Marxisme dilucuti dari semangat revolusionernya yang hidup; segala sesuatunya diakui dalam kerangka Marxisme, kecuali metode-metode perjuangan revolusioner, propaganda dan persiapan untuk metode-metode tersebut, dan juga pendidikan bagi massa dalam rangka perjuangan revolusioner. Kautsky dengan cara-cara yang tidak prinsipil mendamaikan ide fundamental sovinisme-sosial, pengakuan atas pembelaan terhadap tanah air dalam perang hari ini, dengan konsesi diplomatis palsu kepada kaum Kiri. Hal ini dilakukannya dengan abstain dari pemungutan suara anggaran perang, klaim verbalnya sebagai oposisi, dll. Kautsky, yang pada 1909 menulis sebuah buku tentang periode revolusi yang semakin dekat dan tentang kaitan antara perang dan revolusi, yang pada 1912 menandatangani Manifesto Basel[8] yang berbicara mengenai menggunakan peluang revolusioner dari perang yang akan datang, sungguh berusaha keras untuk membenarkan dan menghiasi sovinisme-sosial, dan, seperti Plekhanov, bergabung dengan kaum borjuasi untuk mencemooh setiap pemikiran tentang revolusi dan semua langkah menuju perjuangan revolusioner yang segera.
“Kelas buruh tidak dapat memainkan peran revolusioner yang mendunia kecuali jika kelas buruh mengobarkan sebuah perjuangan yang tanpa-belas-kasihan untuk melawan kemunduran, kepengecutan, dan ketundukan terhadap oportunisme, dan vulgarisasi terhadap teori-teori Marxisme yang tidak ada paralelnya ini. Kautskyisme bukanlah sebuah kebetulan; ia adalah produk sosial dari kontradiksi-kontradiksi di dalam Internasional Kedua, yang merupakan campuran antara kesetiaan terhadap Marxisme dalam kata-kata dan subordinasi terhadap oportunisme dalam praktek. “(G. Zinoviev dan N. Lenin, “Sosialisme dan Perang” Jenewa, 1915, hal. 13-14).
Lagi, dalam buku saya yang berjudul “Imperialisme, Tahapan Tertinggi Dalam Kapitalisme” yang ditulis pada 1916, dan diterbitkan di Petrograd pada 1917, saya membedah serinci-rincinya kesalahan teoritis dari semua argumen Kautsky tentang imperialisme. Saya mengutip definisi Kautsky tentang imperialisme: “Imperialisme adalah sebuah produk dari kapitalisme industrial yang sangat berkembang, di mana setiap bangsa kapitalis industrial berusaha mengontrol atau menganeksasi semua daerah agraris yang besar [italik dari Kautsky], tidak peduli bangsa mana yang mendudukinya.” Saya menunjukkan betapa kelirunya penjelasan ini, dan bagaimana penjelasan itu telah ‘diadaptasi” untuk menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang paling dalam dari imperialisme, dan kemudian “diadaptasi” untuk didamaikan dengan oportunisme. Saya memberikan definisi saya sendiri tentang imperialisme: “Imperialisme adalah kapitalisme pada tahap perkembangan di mana dominasi monopoli dan kapital finansial telah menjadi kenyataan, di mana ekspor kapital telah menjadi sangat penting; di mana pembagian dunia di antara sindikat-sindikat internasional telah dimulai; di mana pembagian wilayah-wilayah dunia di antara kekuatan-kekuatan kapitalis terbesar telah selesai.” Saya menunjukkan bahwa kritik Kautsky terhadap imperialisme jauh lebih rendah ketimbang kritik kaum borjuis filistin.
Akhirnya, pada bulan Agustus dan September 1917 — yakni, sebelum revolusi proletar Rusia (25 Oktober [7 November] 1917), saya menulis sebuah pamflet (yang diterbitkan di Petrograd di awal 1918) yang berjudul “Negara dan Revolusi. Teori Marxis tentang Negara dan Tugas-Tugas Kaum Proletariat dalam Revolusi”. Dalam Bab IV dari buku ini yang berjudul “Vulgarisasi Marxisme oleh Kaum Oportunis,” saya memberikan perhatian khusus terhadap Kautsky dengan menunjukkan bahwa dia telah sepenuhnya mendistorsi pemikiran-pemikiran Marxisme, mengubahnya agar sesuai dengan oportunisme, dan bahwa dia telah “menyangkal revolusi dalam praktek, kendati menerimanya dalam ucapan.”
Pada intinya, kesalahan utama secara teoritis yang dibuat oleh Kautsky dalam pamfletnya tentang kediktatoran proletariat terletak pada distorsi-distorsinya yang oportunis terhadap pemikiran-pemikiran Marx tentang Negara — distorsi-distorsi yang telah saya bedah secara rinci dalam pamflet saya yang berjudul “Negara dan Revolusi.”
Pernyataan-pernyataan awal ini dibutuhkan karena mereka menunjukkan bahwa saya telah menuduh Kautsky secara terbuka sebagai seorang pengkhianat jauh sebelum kaum Bolshevik mengambil alih kekuasaan Negara dan dikutuk oleh Kautsky sehubungan dengan perebutan kekuasaan tersebut.

Catatan

[1] Karl Kautsky (1854-1938) adalah teoretikus Marxis terkemuka dari Jerman. Dia adalah salah satu pendiri Internasional Kedua dan teoretikus organisasi tersebut. Awalnya Kautsky dianggap sebagai guru Marxis oleh kaum Bolshevik, termasuk Lenin. Tetapi dengan semakin dekatnya revolusi, Kautsky menjadi semakin reformis. Saat Perang Dunia I meledak, dia mengambil posisi yang ambigu. Ketika Revolusi Oktober meledak, dia mengambil posisi menentangnya dan berdiri di pihak kontra-revolusi. Lenin dan Trotsky lalu mencapnya sebagai pengkhianat.
[2] Koran Sotsial-Demokrat adalah koran ilegal Rusia, organ sentral dari Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia yang diterbitkan dari Februari 1908 hingga Januari 1917. Koran ini diterbitkan di luar negeri. Dewan Editornya terdiri dari perwakilan Bolshevik, Menshevik, dan kaum Sosial Demokrat Polandia. Lenin adalah salah satu editornya, dan menulis banyak artikel di dalam koran ini.
[3] Majalah Kommunist adalah majalah yang didirikan oleh Lenin. Hanya dua edisi yang berhasil terbit sebelum majalah ini ditutup karena perbedaan politik di antara dewan editornya.
[4] Gregory Zinoviev (1883-1936) adalah seorang Bolshevik Tua. Bersama Lenin dan Kamenev, mereka membangun Bolshevik sejak awal. Dengan Stalin dan Kamenev, ia menentang Trotsky pada 1923. Setelah sadar bahwa bahaya sesungguhnya di dalam Partai adalah Stalin dan kaum birokrasi, ia lalu bersatu dengan Trotsky untuk melawan Stalin pada 1926-27. Oposisi Kiri ini kalah dalam perjuangannya melawan Stalin dan birokrasi. Ia dipecat dari partai pada 1927, tetapi kemudian menyerah pada Stalin dan diizinkan masuk kembali ke dalam Partai. Dipecat lagi pada 1932, dia lalu dihukum 10 tahun penjara. Pada 1935, Zinoviev diadili di dalam Pengadilan Moskow dan dihukum eksekusi.
[5] Peter Struve (1870-1944) adalah seorang politisi dan intelektual terkemuka Rusia, yang awalnya seorang Marxis, lalu menjadi liberal. Ia adalah salah seorang pendiri Partai Konstitusional Demokratik (Kadet), sebuah partai borjuis liberal di Rusia.
[6] Lujo Brentano (1844-1931) adalah seorang ekonom Jerman, yang mendukung gagasan “sosialisme negara”.  Dia mencoba membuktikan kemungkinan mencapai keadilan sosial di dalam kerangka kapitalisme, dengan cara reforma dan mendamaikan kepentingan kapitalis dan buruh.
[8] Georgi Plekhanov (1856-1918) adalah Bapak Marxisme Rusia. Dia adalah salah satu pendiri organisasi Marxis pertama di Rusia: Kelompok Emansipasi Buruh. Dianggap oleh Lenin sebagai gurunya, dia pada akhirnya berseberangan dengan Lenin mengenai masalah Revolusi Rusia 1917, dan menentang Revolusi Oktober.
[9] Manifesto Basel adalah manifesto yang ditandatangani oleh Internasionale Kedua pada 1912, yang menyatakan bahwa Internasionale Kedua akan melakukan apapun yang diperlukan untuk menghentikan perang dunia, dan akan menggunakan momen krisis politik dan ekonomi yang ada untuk menumbangkan kekuasaan kapitalis. Namun, ternyata pada 1914 ketika perang dunia meledak, mayoritas anggota Internasionale Kedua mendukung pemerintahan borjuasi mereka sendiri. Ini menandai kematian Internasionale Kedua.