photo hhhhhhhhiii_zps9dd37855.jpeg" />  photo hhdrhhdhdrhdh_zps2794a59b.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />
Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perspektif. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2015

Antara Lumpen Proletariat, Gelandangan, dan Pengemis

Sumber : Google Image

WARTAKAMPUS, Perspektif - Lumpenproletariat atau Proletariat Gelandangan, sesuai dengan namanya yaitu gelandangan, sifat sifatnya yang pokok adalah merusak, kriminal, tidak punya sistim ideologi tertentu kecuali mengacau, tidak mengenal disiplin apapun. Dikalangan Proletariat Gelandangan ini tentu ada pula kaum elitnya. Merampok, nyopet, nipu, dan tindakan-tindakan brutal lainnya adalah satu-satunya cara kehidupan bagi mereka. Kapitalisme terus memberikan kesempatan bagi Lumpen Proletariat untuk menjadi sedikit elit. Tapi hakekatnya tetap saja sebagai gelandangan. Jenis Proletar ini kacau pikirannya karena suka mengacau, merusak, bebas tak mengenal batas dan gaya tipikalnya yakni caci maki. Tidak punya teman kecuali dirinya sendiri karena mereka sukar di organisir atau tidak bisa mengorganisir karena tidak punya rasa disiplin.

Secara bahasa, lumpenproletariat dapat diartikan sebagai ‘orang yang berpakaian rombeng, orang jelata dan bawahan’ [Stirner dalam Lumpenproletariat, http://www.marxists.org/glossary/terms/l/u.htm]. Sementara itu, Karl Marx menajamkan pengertian lumpenproletariat sebagai “the dangerous class, the social scum that passively rotting mass thrown off by the lowest layers of the old society”, [Karl Marx dan Frederick Engels, Manifesto of the Communist Party, Moskow: Balai Penerbitan Bahasa Asing, 1959] yakni suatu kelas yang berbahaya, sampah masyarakat, yang tersingkirkan hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Lumpen sendiri berasal dari bahasa Jerman yang artinya ‘kain atau pakaian yang sudah menjadi lusuh’. atau. Dapat juga secara kasar diartikan sebagai orang miskin (di kota maupun desa), gerombolan perusuh dan orang-orang buangan masyarakat industri. Mereka adalah kaum yang tidak masuk kategori proletar dan borjuis.

Keberadaannya dapat digunakan oleh politisi reaksioner maupun gerakan revolusioner, oleh karena itu posisinya dalam masyarakat tidak kuat. Lumpen proletariat adalah level terendah dari proletariat, yang biasanya menganggur, miskin, tidak memiliki kemampuan kerja, kriminal dan karakteristik mereka yang paling sering ditemui adalah ketiadaan kesadaran kelas, sebagai kelompok-kelompok yang tak akan mampu menciptakan revolusi.

Mereka tidak mempunyai pekerjaan yang jelas, keinginan untuk memperoleh pekerjaan dan hidup sebagai parasit sosial. Termasuk di dalamnya pencuri, pelacur, bandit, penjahat, penipu, gelandangan, pengangguran (dan calon pengangguran), orang yang dibuang dari industri, dan semua yang tidak masuk klas (declassed or non-class) dan taraf manapun. Kaum ini dipandang sebagai cadangan industri oleh para kapitalis. Setiap saat mereka bisa difungsikan untuk menurunkan posisi tawar buruh terhadap majikannya.

Dalam A Critique of The German Ideology, Marx menyebutkan bahwa lumpenproletariat tidak memiliki kekuasaan dan tidak terorganisasi. Termasuk di antaranya gelandangan dan pengemis. Bahkan Marx menyebutkan kedua golongan ini secara jelas dalam beberapa tulisannya. Dari definisi yang diberikan pemerintah [Lihat PP nomor 31 tahun 1980. Elizabethan Poor Law tahun 1601 yang menjadi cikal bakal undang-undang kesejahteraan sosial pun tidak memberi ruang bagi kedua golongan ini] pun kita tahu bahwa gelandangan tidak bekerja dan oleh karena itu dapat digolongkan ke dalam lumpenproletariat. Sementara pengemis dapat dimasukkan ke dalam lumpenproletariat karena mereka dianggap sebagai klas terbuang yang hanya menjadi golongan yang tersingkirkan.

Dari segi definisi dan sejarah, gelandangan sejak dahulu memiliki potensi revolusioner seperti yang diaplikasikan kaum Marxis [Seperti Mao Zedong yang memobilisir kaum petani dan gelandangan dalam revolusi di Cina. Marx sendiri tidak menyetujui turut sertanya kaum lumpenproletariat dalam revolusi]. Peneliti-peneliti masyarakat zaman tradisional mengatakan di zaman kerajaan Indonesia, rakyat memberikan dukungan mereka pada raja dengan kaki. Artinya kalau tidak senang dengan pemerintahan raja, maka salah satu cara oposisi yang paling mudah adalah dengan melarikan diri dari lingkungan kekuasaannya [Onghokham dalam Gelandangan Sepanjang Zaman, Gelandangan: Pandangan Ilmuwan Sosial, Jakarta: Penerbit LP3ES, 1984. Pada zaman dahulu, definisi gelandangan masih netral, yakni diartikan sebagaimana pengembara/pengelana]. Pengemis pun memiliki potensi revolusioner pasif karena di dalam diri mereka terkandung kecemburuan sosial terhadap kaum berpunya. Jika kecemburuan ini menuju pada kesadaran klas, maka gelandangan dan pengemis membentuk kelompok sosial baru dan dengan begitu dapat menjadi basis persediaan massa untuk mewujudkan revolusi sosialis.

Meskipun begitu, lumpenproletariat dengan ketidakberdayaannya (powerlessnes) tetaplah menjadi modal politis/properti bagi kaum borjuis. Meskipun ada di antara mereka yang mengangkat pemimpin dari golongan mereka untuk menjadi penguasa klas tersebut. Namun, hal ini tidak lantas menafikan penggolongan gelandangan dan pengemis sebagai kaum lumpenproletariat. Posisi mereka sangat dilematis: di satu sisi menginginkan kesetaraan dan perubahan nasib, di sisi lain mereka tidak memiliki pekerjaan yang membuat posisi tawar mereka semakin tinggi. Gelandangan dan pengemis tetaplah lumpen yang tersisihkan dari sistem klas sosial yang dibuat Marx.

Selasa, 03 November 2015

KOMITE PERSATUAN RAKYAT - BATALKAN PP PENGUPAHAN


KOMITE PERSATUAN RAKYAT - BATALKAN PP PENGUPAHAN
Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN ), Gabungan Solidaritas Perjuangan Buruh ( GSPB ), Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia ( PPMI ), Federasi Serikat Pekerja Aneka Industri Indonesia ( FSPASI ), Federasi Serikat Pekerja - Percetakan Penerbitan Media Informasi Serikat Pekerja seluruh Indonesia ( FSP PPMI SPSI ), Gerakan Bersama Buruh / Pekerja BUMN ( GEBER BUMN ), Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan ( F SEDAR ) Federasi Serikat Buruh Demokrasi Seluruh Indonesia ( F SBDSI - Tapal Batas ), Gabungan Serikat Buruh Merdeka ( GSBM ), Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia ( SPRI ), Sentra Gerakan Muda Kerakyatan ( SGMK ), Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia ( PPRI ), Solidaritas. Net ( SolNet ), Lembaga Bantuan Hukum - Jakarta ( LBH Jakarta ), Pusat Perjuangan Mahasiswa Untuk Pembebasan Nasional ( PEMBEBASAN ), Kongres Politik Organisasi - Perjuangan Rakyat Pekerja ( KPO PRP ), Partai Pembebasan Rakyat (PPR)
SERUAN PERLAWANAN UMUM BURUH INDONESIA : 10 NOVEMBER 2015
Joko Widodo Masih bebal & belum Mencabut PP No.78 / 2015 Tentang Pengupahan
Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan masih tetap belum dicabut oleh pemerintah. Walaupun penolakan dan perlawanan kaum buruh terhadap PP tersebut sudah terbukti semakin meluas dan membesar. Aksi-aksi konvoi di kawasan-kawasan industri sudah merebak dari Tangerang, Bekasi, Jakarta, Karawang, Purwakarta, Surabaya, dan sebagainya.
Tanggal 28 Oktober lalu, kami Komite Persatuan Rakyat telah melakukan penutupan jalan Tol Cawang selama beberapa jam untuk menegaskan penolakan kami. Demikian pula pada tanggal 30 Oktober kemarin, Komite Aksi Upah harus berhadapan dengan represifitas aparat saat bertahan di Istana Negara, yang mana menyebabkan puluhan aktivis buruh terluka dan ditangkap. Melalui pernyataan ini juga kami mengutuk tindakan aparat yang berusaha merepresi gerakan-gerakan yang sedang menuntut pencabutan PP Pengupahan !, JOKOWI masih bergeming & masih menutup mata dan telinganya !.
Pemerintah melalui Kemenaker justru meneruskan logika sesatnya dalam memuluskan PP Pengupahan. Kita tahu, alasan sederhana kaum buruh menolak PP Pengupahan adalah karena tidak dipakainya elemen ‘KHL’ dalam penentuan upah minimum, dan disingkirkannya peran serikat buruh/pekerja dalam penentuan upah minimum.
Tetapi, pemerintah justru berdalih bahwa PP Pengupahan ini akan lebih mengefektifkan serikat buruh yang tidak lagi memikirkan upah minimum, karena upah minimum sudah dipastikan naik tiap tahunnya dengan skema penambahan persentasi inflasi dan pertumbuhan ekonomi dari upah tahun sebelumnya. Pemerintah melalui Menaker bahkan menambahkan argumen untuk mengembalikan ‘khittah’ serikat buruh dalam perjuangan ‘upah layak’ di masing-masing perusahaan, bukan untuk upah minimum.
Argumen seperti itu sebenarnya justru lebih memperterang bahwa pemerintah memang ingin mengorbankan buruh demi kepentingan pemodal.
Pertama),
dengan memisahkan antara upah minimum dengan upah layak, pemerintah melalui PP Pengupahan tersebut menganggap upah minimum bukan lah upah layak (dan tidak harus layak), melainkan hanya jaring pengaman sosial. Sedangkan upah layak harus lah merupakan hasil dari kerja buruh yang lebih keras dan lebih lama lagi pada sebuah perusahaan, yang mana hal itu hanya dapat diperjuangkan di tiap-tiap perusahaan tanpa kejelasan peran dari pemerintah.
Dengan begitu, pemerintah secara sengaja ingin menghilangkan faktor Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dalam penentuan upah minimum, dan menggantikannya dengan nilai inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak selalu berhubungan langsung dengan kenaikan harga-harga.
Pertanyaannya, apakah kenaikan harga-harga kebutuhan hidup dapat disamakan atau dicerminkan dengan tingkat inflasi dan pertumbuhan ekonomi semata? Tentu tidak. Pemerintah juga seakan melupakan fakta bahwa upah minimum di banyak daerah/kota belum lah sesuai dengan nilai KHL yang sebenarnya, dimana masih banyak pula komponen KHL yang belum masuk ke dalam standar penghitungan KHL selama ini.
Selain itu, buaian upah layak bagi buruh yang sudah bekerja bertahun-tahun juga mengabaikan fakta bahwa sistem kontrak dan outsourcing yang terjadi di banyak perusahaan justru akan lebih menjerat buruh untuk berada selamanya dalam standar upah minimum yang jauh dari layak.
Kedua),
dengan diserahkannya penentuan ‘upah layak’ pada tiap perusahaan, maka berarti upah layak bisa tidak ada sama sekali. Alasannya, karena perundingan di tiap perusahaan selama ini sangat lah ditentukan oleh keberadaan serikat buruh/pekerja di sebuah perusahaan. Sedangkan, pemerintah tahu dengan jelas bahwa mayoritas buruh masih belum sepenuhnya mendapatkan kebebasan berserikat, yang pastinya akan memperlemah pula upaya memperjuangkan kenaikan upah di setiap perusahaan.
Bahaya lain yang akan muncul bagi gerakan buruh dengan dimundurkannya peran serikat buruh yang memperjuangkan ‘upah layak’ di masing-masing perusahaan, adalah serikat buruh akan dapat berhenti menjadi media solidaritas buruh lintas perusahaan. Hal ini jelas bukan mengembalikan peran serikat buruh ke ‘khittah’ nya seperti yang dikatakan Hanif Dakhiri, melainkan mengebiri peran serikat buruh dan menumpulkan kekuatan solidaritas kaum buruh dalam perjuangannya menuju sejahtera.
Ketiga),
bila ditelusuri lebih jauh, jelas bahwa PP Pengupahan ini merupakan salah satu dari paket kebijakan ekonomi Jokowi-JK dalam mengatasi krisis ekonomi dunia maupun Indonesia. Dengan alasan kondisi ekonomi, upah minimum yang layak digantikan dengan upah minimum yang tidak layak, dan upah layak dilemparkan begitu saja ke perundingan di masing-masing perusahaan, yang mana KHL-nya hanya akan ditinjau dalam 5 tahun sekali.
Tidak berpihaknya pemerintah kepada buruh semakin dibuktikan dengan berbarengnya kebijakan upah murah ini dengan keringanan-keringanan pajak bagi pemodal. Itu berarti bahwa pemerintah sedang mengorbankan hidup layak buruh untuk hidup layak para pemodal.
Namun demikian, kami menganggap upaya mencabut PP Pengupahan tidak dapat lagi dilakukan dengan metode-metode aksi biasa ke pusat-pusat kekuasaan. Harus ada upaya sistematis dan terorganisir dari kaum buruh untuk melakukan gerakannya ke bentuk yang paling ampuh, yakni Perlawanan Umum dipusat - pusat industry dan melumpuhkannya.
Walaupun demikian, kami menyadari pula bahwa bentuk perlawanan tersebut juga tidak dapat dilakukan dengan cara-cara yang sama dengan mogok-mogok sebelumnya, dimana pemodal tidak begitu merasakan kerugiannya dari mogok tersebut.
Menyadari hal-hal diatas, maka kami dari Komite Persatuan Rakyat dengan ini terus menyatakan penolakan dan perlawanan kami terhadap PP Pengupahan yang akan menyengsarakan dan melemahkan kaum buruh.
Dan untuk itu kami juga menyerukan kepada kaum buruh dan rakyat dimana pun berada untuk :
Melakukan PERLAWANAN UMUM BURUH INDONESIA pada 10 November 2015 :
1). Hadir Bekerja Dan Mengentikan / Stop Produksi pada 10 November 2015 ;
2). Keluar dari Pabrik / tempat - tempat kerja dan ramai - ramai turun ke jalan – jalan di daerah, kota / kabupaten, melumpuhkan pusat - pusat perekonomian ;
3). Terus dan Lanjutkan Perlawanan Ini Hingga PP No.78 / 2015 Tentang pengupahan DI CABUT !
Menuju PERLAWANAN UMUM BURUH INDONESIA Pada : 10 November 2015, kita harus ;
1). Galang terus partisipasi seluruh buruh khususnya buruh kontrak dan outsorcing serta buruh yang belum berserikat dalam gerakan pembatalan PP Pengupahan tersebut, karena beban terberat dari PP Pengupahan akan berada di pundak buruh kontrak dan outsorcing yang belum berserikat.
2). Bangun komite-komite persatuan perlawanan di tingkat kawasan industri dan kota untuk mewadahi partisipasi perlawanan kaum buruh dan rakyat kedalam gerakan bersama, sekaligus sebagai langkah persiapan menuju PERLAWANAN UMUM.
3). Lakukan pertemuan atau rapat - rapat bersama atau rapat persatuan antar pekerja, antar pabrik di masing - masing kawasan atau daerahnya ;
4). Lakukan Rapat - rapat Akbar persatuan antar pekerja, antar pabrik di masing - masing kawasan atau daerahnya ;
5). Lakukan aksi - aksi, ajakan bersama antar pekerja, antar pabrik di masing - masing kawasan atau daerahnya, penyebaran berita perlawanan umum ini, melalui distribusi selebaran, pemampangan spanduk perlawanan umum, kumandangkan melalui semua ruang dan media untuk menyebarluaskan ke semua penjuru dimana kaum buruh berada ;
Salam Persatuan Perlawanan Kaum Buruh Indonesia,
Jakarta, 01 November 2015
Tertanda,
KOMITE PERSATUAN RAKYAT - BATALKAN PP NO.78 / 2015 TENTANG PENGUPAHAN
• Sekretaris Nasional - DPN : Sentral Gerakan Buruh Nasional (SGBN )
• Ketua Umum - DPP : Gabungan Solidaritas Perjuangan Buruh ( GSPB )
• Presiden - DPP : Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia ( PPMI )
• Presiden - DPP : Federasi Serikat Pekerja Aneka Industri Indonesia
( FSPASI )
• Pimpinan Kota / Cabang : Federasi Serikat Pekerja - Percetakan Penerbitan Media Informasi Serikat Pekerja seluruh Indonesia ( FSP PPMI SPSI )
• Koordinator Nasional - Gerakan Bersama Buruh / Pekerja BUMN ( GEBER BUMN )
• Presiden - DPP : Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI)
• Ketua - DPP : Federasi Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan ( F SEDAR )
• Ketua Umum - DPP : Federasi Serikat Buruh Demokrasi Seluruh Indonesia ( F SBDSI - Tapal Batas )
• Ketua Umum - DPN : Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia ( SPRI )
• Koordinator Nasional : Sentra Gerakan Muda Kerakyatan ( SGMK )
• Sekretaris Presidium : Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia ( PPRI )
• Koordinator : Solidaritas. Net ( SolNet )
• Lembaga Bantuan Hukum - Jakarta ( LBH Jakarta )
• Pimpinan Nasional : Pusat Perjuangan Mahasiswa Untuk Pembebasan Nasional ( PEMBEBASAN )
• Sekretaris Jenderal - Komite Sentral : Kongres Politik Organisasi - Perjuangan Rakyat Pekerja ( KPO PRP )
• Ketua Umum - Pengurus Nasional : Partai Pembebasan Rakyat ( PPR )


Minggu, 11 Oktober 2015

Open Recruitment GPMD SGMK Parepare

Keterbelakangan, kesenjangan dan penghisapan dikehidupan social hari ini, menjadi alasan kongkrit mengapa harus berjuang untuk perubahan. Peradaban yang semakin memaksa kita untuk hidup dengan berkompetisi yang sejatinya membawa kita menjadi pribadi-pribadi individualis dan cenderung mengarah pada situasi yang berbau fasis, rasis, seksis, dan hingga tidak menutup kemungkinan barbarism itu tumbuh dengan cepat. Maka dengan mengantisipasi hal tersebut, berjuang demi kehidupan yang madani pun mulai tumbuh dimana-mana.

GPMDSGMK menjadi salah-satu contoh perjuangan yang kami lakukan demi menghindari dan/atau melawan hal-hal tersebut diatas. Namun yang menjadi pertanyaan berikut ialah, apakah akan mampu merealisasikan hal tersebut jika perlawanannya hanya setitik saja ? pastinya Tidak ! perjungan harus mempunyai nilai kuantitas dan kualitas yang tinggi hingga mampu menopang perjuangan tersebut.

Maka dengan membuka lebar-lebar ruang berekspresi, kami berharap ada banyak personil-personil baru untuk ikut berjuang demi kehidupan sebagai seorang manusia yang layak tentunya dan kehidupannya tidak lagi berpatok pada arus modal atau pasar dunia.

http://revoltnewsgpmd.blogspot.co.id/
Tapi pertanyaan kemudian adalah, apakah jika kuantitas pejuang sudah banyak akan mampu menopang pastinya juga tidak. Karena sebuah perjuangan juga membutuhkan kualitas yang tinggi. Dan dengan apa kita mengkomposisikan pejuang itu sehingga berkualitas pastinya dengan pendidikan-pendidikan atau pengajaran-pengajaran yang akan melatih kognitif seorang pejuang revolusioner.

Maka dengan itu pula dengan ini kami mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk terlibat dalam perjuang kami, dengan mengikuti pendidikan regular Gerakan Perjuangan Mahasiswa Demokratik Kota Parepare. Belajar selagi muda, dan berjuang selagi bisa !

KP-GPMD SGMK

Selasa, 06 Oktober 2015

KEBANGKITAN MENWA BERIRINGAN DENGAN KEBANGKITAN ORDE PALING BARU

Saat ini, Menwa masih eksis di beberapa kampus-kampus di Indonesia dengan status sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di bawah naungan Rektorat. Upaya menghidupkan Menwa kembali merupakan upaya TNI untuk mengembalikan ideologi-politik militerisme/dwi fungsi ABRI melalui mengaktifkan jalur-jalur komando teritorial ke warga sipil.  
Resimen Mahasiswa dan Ideologi Militerisme
Dalam sejarahnya, secara konseptual Menwa muncul dari sistem HAMKAMRATA sebagai hadil dari kebijakan Dwifungsi ABRI 1957 yang mendesain kelompok sipil ke arah semi militer. Awalnya, jalur komando TNI ke Menwa disahkan dalam SKB Menhankam Pangab, Mendikbud dan Mendagri Nomor Kep/39 /XI/1975, 0246a /U /1975 , 247 /A/1975. Selanjutnya, Menhankam/Pangab mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Pembinaan Menwa Nomor Kep/021/-1978, 05a/U/1978, 17A/1978. Pada perkembangannya, SKB itu direvisi pada tahun 1994. SKB 3 Menteri tersebut melegitimasi tentara untuk melakukan pembinaan (pendidikan dan pelatihan) kepada Satmenwa (Satuan Resimen Mahasiswa) tingkat kampus. (Baca lainnya: Demo Tolak Kenaikan Harga BBM, 8 Mahasiswa Ditangkap)
Sejarah Orde Baru memberi bukti bahwa keberadaan Menwa sangat efektif menjadi kaki dan tangan Tentara untuk memata-matai gerakan mahasiswa. Bahkan, pasca kejatuhan Soeharto, kelakuan Menwa yang khas tentara masih dipraktekkan, misalnya pada Mei tahun 2000 terjadi penganiayaan di kampus UPN Veteran Jakarta, yang dilakukan oleh Domingus dan Mirzal, anggota Menwa UPN kepada Dody, Agung dan Wiradhi, anggota Pers Kampus “Aspirasi” UPN. Penganiyaan tersebut didasari oleh ketidaksenangan angota Menwa pada pemberitaan yang dikeluarkan oleh Pers “Aspirasi” tentang kasus korupsi UPN Veteran Jakarta dan kasus uang SPP mahasiswa yang ditilep oknum Menwa yang diduga bekerja sama dengan pihak birokrasi kampus. (Baca lainnya: Awas! Bahaya Militerisme di Dalam Kampus)
Sejak jatuhnya Orde Baru, mahasiswa mulai gencar berkampanye luas dan menuntut pembubaran Menwa dimana dalam berbagai kasus, mahasiswa berhadap-hadapan dengan kelompok Menwa di kampus. Sehingga, pada tahun 2000 SKB Menteri Pertahanan, Menteri Pendidikan Nasional serta Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah mengeluarkan SKB No.KB/14/M/X/2000, No. 6/U/KB/2000 dan No.39 A Tahun 2000 tertanggal 11 Oktober 2000, tentang Pembinaan dan Pemberdayaan Resimen Mahasiswa (MENWA) yang menghapuskan kewenangan TNI dalam pembinaan terhadap Menwa.
SKB 3 Menteri itu memuaskan mahasiswa yang menginginkan Menwa dibubarkan sepenuhnya. Di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)mahasiswa UMS yang tergabung dalam Forum Bersama Mahasiswa Aktivis (FBMA) menuntut pembubaran menwa hingga membakar markas Menwa pada tahun 2002. Perlawanan FBMA berhasil mendesak Rektor UMS Prof Drs Dochak Latif untuk membubarkan Menwa.
Di Kampus Perbanas Jakarta, Perjuangan membubarkan Menwa berhasil karena adanya desakkan mahasiswa.
“Sempat ada kejadian tahun 2004, Rinaldi Railis, mahasiswa jurusan Akuntansi angkatan 2001 yang juga salah satu anggota Menwa Perbanas tewas karena dipukul, ditendang hingga di keroyok oleh senior Menwa saat mengikuti Latihan Dasar Menwa di Cibubur pada hari Rabu, 3 Maret 2004. Tewasnya Rinaldi menyulut kemarahan mahasiswa dan orang tua Rinaldi. Mahasiswa Perbanas membentuk Solidaritas Mahasiswa Perbanas yang menuntut usut tuntas kasus meninggalnya Rinaldi dan menuntut pembubaran Menwa. Akhirnya, Menwa Perbanas dibubarkan oleh birokrasi kampus,” tutur Noris Krishna, salah seorang alumni Perbanas angkatan 2000 yang terlibat dalam gerakan Solidaritas Mahasiswa Perbanas untuk menuntut pembubaran Menwa.

Menghadang Kebangkitan Militerisme di Kampus

Perjuangan demokrasi memang tidak sekali pukul dalam menjatuhkan Soeharto dan menghapuskan Dwifungsi ABRI secara tuntas. Penghapusan Dwifungsi tidak serta merta dapat mengembalikan tentara ke barak-barak perbatasan. Mesin-mesin ideologi militerisme hingga saat ini masih eksis di tengah-tengah sipil dalam bentuk komando teritorial, Kodam hingga Babinsa.
Kediktatoran Orde Baru tak boleh hidup kembali. Segala potensi kebangkitan kekuatan militerisme harus di hadang, salah satunya dengan menghadang kebangkitan Menwa.
Tuntutan Pembubaran Menwa harus digalakkan kembali oleh gerakan mahasiswa, sebab saat ini pun Menwa yang berstatus UKM kampus dengan pengalihan tugas dan fungsi Menwa sebagai penjaga keamanan kampus pun tidak efisian dan over-lapping tugasnya dengan satuan keamanan kampus atau satpam kampus. Menwa bisa saja berdalih bahwa mereka paling konsisten dalam membela negara, tetapi konsep “bela negara” Menwa sangat sempit sebagai tugas sekelompok orang, semacam tugas seorang Praetorian (pasukan pengawal khusus pada masa Kekaisaran Romawi) yang mengecilkan peranan sipil dalam pembelaan negara.
Harus disadari bahwa musuh mahasiswa bukan anggota Menwa yang notabenenya juga mahasiswa, tetapi Menwa itu sendiri sebagai wadah organisasi yang menebarkan ideologi militerisme pada mahasiswa dan sewaktu-waktu mereka dapat bertindak anti demokratis. Pembubaran Menwa dapat dilakukan dengan berbagai metode perjuangan mahasiswa. Pertama, melakukan aksi tuntutan terpusat diarahkan pada pemerintahan Jokowi-Jk serta tuntutan kepada Kementerian yang terkait, seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset Dan Pendidikan Tinggi, untuk menolak usul dari Kementerian Pertahanan. Karena pembangkitan kembali Menwa harus mendapat persetujuan dari ketiga Kementerian tersebut. Kedua, menggalakan kembali diskusi, seminar, nonton film tentang kejahatan ideologi militerisme/Dwi fungsi ABRI dan aksi-aksi kampus dengan tuntutan pembubaran terhadap Menwa di kampus-kampus.
Sumber : Solidaritas.net

Minggu, 30 Agustus 2015

Victor Serge: Revolusi dalam hidup dan sastra


Victor Serge: Revolusi dalam hidup dan sastra
Diterbitkan: 18/10/2009

Ditulis oleh: Simon Olley
Awalnya terdaftar di bawah: Edisi 148 - Desember 2009

Mengkonversi libertarian ke Bolshevisme, agitator, novelis, jurnalis, penyair, pamflet, seniman dan penulis politik: Victor Serge adalah par excellence revolusioner (dan dia punya waktu penjara untuk membuktikannya). Tapi bisa dibilang pencapaian besar, apa yang membuat karyanya begitu relevan untuk hari ini, adalah untuk menangkap semangat revolusioner intens usianya: flash kecemerlangan sangat terang bahwa mereka akan bertahan di benak jutaan, bahkan dalam jam tergelap berikutnya dekade, mengulurkan harapan masyarakat yang memadai untuk sifat yang benar-benar bermartabat dan kreatif eksistensi manusia.

Victor Lvovich Kibalchich (Victor Serge) lahir di Belgia pada tahun 1890 dalam sebuah keluarga imigran Rusia dengan hubungan dekat dengan gerakan Narodnaya Volya. Serge menjadi politik pada usia yang sangat dini. Dalam Memoirs of a Revolutionary ia ingat mengambil posisi anarkis dari usia enam dan seterusnya. Ketika ia berusia 15 Serge dan lingkaran teman-teman bergabung dengan Jeunes Gardes, kaum sosialis muda Belgia, tetapi mereka dengan cepat tumbuh tidak puas dengan fokus semakin reformis dan parlemen dari partai.

Dipengaruhi oleh libertarianisme romantis penulis seperti Albert Libertad, Serge meninggalkan Belgia untuk melemparkan dirinya ke dalam milieus anarkis dari Paris. Dengan nama samaran Valetin, Serge diedit koran L'Anarchie, pagar terhadap kehidupan tertindas dan terdegradasi dari para pekerja yang mengalami "tenaga kerja robot bawah arahan otoriter dalam kondisi memalukan dan kotor" dan memuji kebaikan bandit sebagai sarana untuk melarikan diri dari memalukan eksploitasi.

Sayangnya untuk Serge, polisi Perancis mengambil serius pepatah bahwa "kata-kata adalah senjata", dan pada tahun 1912 ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena peran yang dituduhkan dalam menghasut kejahatan geng Bonnot. Waktunya di penjara, termasuk jangka waktu sel isolasi, kemudian menjadi inspirasi untuk Pria novelnya di Penjara.

Berkaca pada periode ini hidupnya di Memoirs nya, Serge mengungkapkan frustrasi ia merasa saat melihat lingkaran anarkis runtuh dan retak di bawah tekanan dari represi polisi: "Saya melihat seluruh gerakan yang didirikan oleh Libertad diseret ke sampah masyarakat dengan semacam kegilaan, dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa, apalagi diriku sendiri ". Pengalamannya di Paris berkontribusi pergeseran di kemudian hari jauh dari libertarianisme menuju pemahaman bahwa aksi kolektif oleh pekerja adalah kunci keberhasilan dalam perjuangan melawan kapitalisme.

Setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1917 Serge melakukan perjalanan ke Barcelona, ​​tiba tepat pada waktunya untuk berpartisipasi dalam sindikalis pemberontakan yang gagal. Tapi, setelah pecahnya revolusi Rusia pada bulan Februari tahun 1917, ia berada di atas semua putus asa untuk mendapatkan kembali ke Rusia. Serge berusaha untuk menemukan jalan kembali ke Rusia melalui Perancis, tapi ia dengan cepat ditahan karena melanggar kondisi pembebasannya dari penjara, yang melarang dia untuk kembali ke negara. Untuk tahun berikutnya ia terjebak di sebuah kamp interniran Perancis, menghabiskan waktu dalam diskusi bergairah dan berdebat dengan emigran Rusia tentang pentingnya Oktober 1917 revolusi dan Partai Bolshevik yang dipimpin itu.

Hal ini periode ini dalam kehidupan Serge yang membentuk dasar untuk Kelahiran novel Daya kami, kebangkitan yang kuat dari suasana politik sangat dituntut selama Perang Dunia I, dan gelombang antusiasme yang melanda gerakan buruh Eropa 'dalam menanggapi peristiwa di Rusia.

Akhirnya, pada bulan Oktober 1918, pemerintah Perancis sepakat untuk bertukar Serge dan revolusioner lainnya untuk sejumlah tahanan anti-Bolshevik yang diadakan di Rusia. Serge tiba di Petrograd pada bulan Januari 1919 hingga menemukan kota, dan pemerintah Soviet, dalam perjuangan putus asa untuk bertahan hidup.

Dia langsung disambar oleh kekuatan semangat revolusioner yang mendorong pekerja Rusia untuk bertahan dalam menghadapi kekurangan yang tak terkatakan dari perang saudara. Dan ia bisa melihat bahwa itu hanya Bolshevik yang berdiri dengan pekerja, menyediakan kemampuan organisasi yang diperlukan untuk mempertahankan keuntungan dari revolusi dari banyak musuh nya. Sebagai Serge kemudian meletakkannya, "Saya tidak melawan kaum Bolshevik atau netral, saya bersama mereka, meskipun secara mandiri, tanpa menyangkal pikiran atau akal kritis."

Novel Serge menaklukkan City menyediakan rekening menarik dari kehidupan di Petrograd selama perang sipil, dan karya sejarah yang paling signifikan, Tahun Salah satu Revolusi Rusia, memberikan konteks yang lebih luas. Pemerintah Soviet dikepung dari semua sisi, dan Serge bisa melihat bahwa tanpa dukungan dari revolusi di negara Eropa Barat yang lebih maju, ada sedikit harapan bahwa hal itu bisa bertahan hidup.

Ketiga (Komunis) Internasional didirikan Maret 1919 dengan tujuan mempercepat penyebaran revolusi di luar negeri. Selama tujuh tahun ke depan Serge bekerja untuk Komintern, menggambarkan dirinya dan rekan-rekannya sebagai "utusan, fungsionaris, sekretaris, editor, penerjemah, printer, penyelenggara, direktur, 'anggota collegium yang' dan kemudian beberapa."

Pada tahun 1922, di bawah naungan perannya dengan Komintern, Serge ke Jerman di mana pada tahun berikutnya ia menyaksikan kekalahan tragis revolusi Jerman. Serge jelas menyadari pentingnya acara ini untuk harapan para pekerja Rusia: "Kalau saja" tulisnya, "Kalau saja ...". Dari 1923 sampai kembali ke Rusia pada tahun 1926, Serge melanjutkan pekerjaannya di Jerman dan kemudian Austria, tanpa lelah melakukan sendiri untuk prospek memudar revolusi di Eropa Barat.

Kembali di Rusia Serge menemukan bahwa isolasi terus rezim Soviet telah menyebabkan degenerasi signifikan dan peningkatan konsentrasi kekuasaan di tangan birokrasi negara. Setelah kematian Lenin pada tahun 1923, Stalin diucapkan kebijakan "sosialisme di satu negara", akan melawan prinsip dasar Marxisme yang semua pemimpin utama revolusi Rusia telah ditaati.

Serge diakui perkembangan ini sebagai mewakili istirahat yang menentukan dengan tradisi Revolusi Oktober dan bahwa Rusia sekarang menuju ke jalan yang menuju pemulihan suatu bentuk masyarakat kelas. Ia melemparkan dirinya ke Oposisi Kiri, dipimpin oleh Leon Trotsky, dan mulai mengorganisir sejumlah kecil kaum revolusioner lain yang siap untuk mengambil sikap: "Salah satu kelompok saya, yang terdiri dari setengah lusin pria dan wanita, mengadakan pertemuan dalam naungan cemara-pohon rendah di sebuah kuburan yang ditinggalkan. Saya akan berdiri di kuburan dan membahas laporan rahasia dari Komite Sentral, berita dari China, dan artikel Mao Zedong. "

Serge dan rekan oposisi nya diusir dari kaum Bolshevik (sekarang Partai Komunis) pada bulan Oktober 1927. Selama lima tahun ke depan, 1928-1933, Serge diizinkan untuk hidup bebas di Petrograd dan ini terbukti menjadi periode paling produktif untuk tulisannya. Namun, ia tunduk pengawasan konstan dan pelecehan oleh otoritas dan pada tahun 1933 ia ditangkap dan dituduh mengambil bagian dalam konspirasi melawan negara.

Dalam konteks paranoia meningkatkan rezim Stalinis ini adalah situasi yang sangat berbahaya. Tapi menonjol Serge sebagai penulis, terutama di Perancis, berarti bahwa ia menghindari nasib yang dialami tak terhitung jumlahnya lainnya dituduh "Trotskyis" dalam periode ini. Dia tunduk pengasingan internal di kota Rusia Orenburg, di mana ia menghabiskan tiga tahun sebelum kampanye oleh aktivis Perancis dan penulis menyebabkan pembebasannya.

Serge meninggalkan Rusia untuk Belgia dan kemudian Perancis, di mana ia tinggal sampai ia dipaksa oleh invasi Nazi pada tahun 1940. Dia meninggal di Meksiko pada tahun 1947, dilanda kemiskinan, bahkan tanpa sepasang sepatu yang layak untuk namanya.

Berdasarkan kisah seperti ini, Anda mungkin berharap bahwa di kemudian bekerja Serge nada optimis humanisme yang meliputi novel seperti Birth of Power kami akan menyerah pada realitas yang keras bahwa ia telah menderita melalui. Dan tidak ada keraguan bahwa subyek dari novel yang ditulis selama pengasingannya suram. Pekerjaan seperti Midnight dari Century dan Kasus Kamerad Tulayev tidak memegang kembali penggambaran dari kekejaman tidak manusiawi dari birokrasi Stalinis.

Tapi apa yang mencolok tentang karya-karya ini adalah sejauh mana, meskipun penggambaran penderitaan mereka memerlukan, fokus tetap pada kapasitas manusia bawaan untuk ketahanan.

Dengan demikian bab terakhir dari Midnight dari Century, berjudul "The Beginning", berakhir dengan visi pembaruan: dari "bumi Rusia, bumi disiksa Revolusi ... tahanan yang tak terhitung jumlahnya yang tinggal, yang dieksekusi tak terhitung jumlahnya di kuburan, situs yang konstruksi, massa yang, kesunyian dan semua biji berkecambah di dalam rahim nya. "

Berlanjutnya harapan output sastra Serge dapat dijelaskan dengan mengacu pada karya-karya sejarah di mana ia mencoba untuk datang untuk mengatasi dengan transisi dari demokrasi Soviet ke totalitarianisme Stalinis. Memiliki menjadi saksi realitas kekuasaan Soviet di Petrograd di setelah revolusi, ia jelas bisa melihat keterputusan antara Partai Bolshevik yang berdiri di kepala kelas pekerja menang Rusia pada bulan Oktober tahun 1917, dan Partai yang diusir dia dan kawan oposisi di Oktober 1927.

Dalam karya-karya seperti Dari Lenin untuk Stalin dan Rusia Twenty Years After, Serge merakit volume tangguh bukti untuk fakta bahwa kekalahan revolusi, dan munculnya birokrasi Stalinis, memiliki lebih banyak untuk melakukan dengan kegagalan untuk menyebarkan luar negeri daripada dengan ini atau itu kebijakan Bolshevik. Serge bertanya "apa ketidakadilan yang lebih besar bisa dibayangkan terhadap revolusi Rusia daripada menilai dalam terang Stalinisme saja? Tentu Stalinisme yang muncul dari itu, memang benar, hanya untuk membunuh, tapi dalam perjalanan tiga belas atau lima belas tahun perjuangan, oleh mendukung kekalahan sosialisme di Eropa dan Asia! "

Sehubungan dengan titik ini adalah pelajaran untuk membandingkan outlook Serge dengan yang dari George Orwell, yang dalam banyak hal setara nya berbahasa Inggris. Kedua Serge dan Orwell khawatir untuk mengekspos kejahatan Stalinis kontra-revolusi di Rusia. Tetapi sedangkan nada pada tahun 1984 (diringkas oleh garis "jika ada harapan, harus berbaring dengan proles") bersandar lebih ke arah pengunduran diri pasif dalam menghadapi kekuatan sistem totaliter, penekanan Serge hampir selalu prospek untuk pembaharuan perjuangan. Jadi dalam Dari Lenin Stalin dia bertanya "apakah ada yang membayangkan bahwa birokrasi tanpa batas akan mempertahankan cekikannya pada orang-orang muda dari 170 juta jiwa, yang mempertahankan dalam memori legenda heroik dari tahun besar - orang dengan takdir yang akan dicapai ? "

Orang mungkin menduga bahwa pengalaman panjang Serge sebagai peserta aktif dalam gerakan revolusioner, pertama di Perancis dan Spanyol, dan kemudian pada tahun-tahun setelah revolusi di Rusia, jika dibandingkan dengan partisipasi sekilas Orwell dalam milisi revolusioner dalam perang sipil Spanyol, memberi dia rasa jauh lebih dalam tertanam dari kapasitas kelas pekerja (proles) untuk membuat sejarah mereka sendiri.

Dunia hari ini adalah satu di mana realitas brutal sistem kapitalis, dengan kesenjangan yang aneh, kerusakan lingkungan, perang dan penindasan, bisa lebih kuat dari sebelumnya. Dalam konteks ini, karya Victor Serge memiliki kapasitas yang unik untuk menginspirasi. Ini melengkapi kita dengan kekuatan moral, keberanian dan kreativitas yang dibutuhkan untuk melawan sistem. Dan ini dilakukan dengan membangkitkan pengalaman hidup revolusi, sebuah pengalaman yang tertanam visi masa depan yang lebih baik ke dalam pikiran jutaan pekerja dari generasi Serge.

Itu visi ini yang mendorong Victor Serge, dan yang ditempa dalam dirinya keyakinan dihancurkan pada potensi kelas pekerja untuk menolak, bahkan di paling putus asa situasi. Berkaca pada pengalamannya di Memoirs nya, Serge menulis:

"Awalnya, saya belajar dari intelektual Rusia bahwa satu-satunya arti kehidupan terletak pada partisipasi sadar dalam pembuatan sejarah. Semakin saya memikirkan itu, lebih dalam benar tampaknya. Oleh karena itu kita harus berkisar diri . aktif terhadap segala sesuatu yang mengurangi manusia, dan melibatkan diri dalam semua perjuangan yang cenderung membebaskan dan memperbesar dia imperatif kategoris ini sama sekali tidak berkurang oleh fakta bahwa keterlibatan semacam itu pasti kotor oleh kesalahan: itu adalah kesalahan buruk untuk hidup diri, tertangkap dalam tradisi yang kotor oleh kebiadaban. "

Dan di terjemahkan oleh Abd. Rahman / Ame’



Mengapa Marx benar tentang kapitalisme

Mengapa Marx benar tentang kapitalisme

Dari saat Karl Marx menempatkan pena untuk kertas, komentator politik pro-kapitalis dan akademisi telah berusaha untuk mengubur ide-idenya. Tapi generasi-generasi aktivis politik terus-menerus berubah untuk ide-ide Marx, dari yang terbaik pejuang kelas pekerja yang bergabung dengan berbagai pihak komunis dan sosialis di awal abad ke-20 untuk para mahasiswa radikal yang berdiri untuk kengerian perang Vietnam di tahun 1960-an, merangkul dakwaan membakar nya kapitalisme dan argumennya untuk revolusi.
Hari ini, dengan jutaan orang di seluruh dunia terjun ke penghinaan dan rasa sakit pengangguran, kelaparan dan tunawisma, dan dengan seluruh petak Timur Tengah terkoyak, ide-ide Marx memiliki relevansi yang abadi. Mereka sangat penting untuk memahami mengapa kapitalisme modern begitu cabul; bagi kita yang ingin memenangkan masyarakat yang bebas dari kesengsaraan dan kelas ketidaksetaraan yang bekas luka dunia kita, mereka juga sangat diperlukan sebagai panduan untuk bertindak.
"Masyarakat secara keseluruhan lebih dan lebih membelah menjadi dua kubu yang bermusuhan besar, menjadi dua kelas besar secara langsung saling berhadapan -. Borjuasi dan Proletar" - Manifesto Komunis
Meskipun semua pernyataan kelas tidak ada, bahwa divisi terbesar adalah mereka antar bangsa, jenis kelamin, atau budaya, Marx benar tentang sifat kapitalisme. Ini adalah sebuah sistem didefinisikan oleh eksploitasi kelas pekerja oleh kapitalis. Ketika Marx menulis Manifesto Komunis dan kemudian, Capital, kapitalisme hanya didominasi di kantong Eropa dan Amerika Utara. Sebagian besar dari populasi dunia adalah petani, peternak mandiri atau kelompok suku.

Namun, kapitalisme cepat menjadi sistem global. Di seluruh dunia petani terlempar tanah mereka dan didorong ke cepat-berkembang pusat-pusat kota. Kelas pekerja dan kelas kapitalis tumbuh sebagai negara bangsa didirikan. Masyarakat menjadi lebih dan lebih terpolarisasi antara dua kelas sosial utama ini. Kelas pekerja, yang mencakup kerah putih dan pekerja kerah biru - siapa saja yang memiliki untuk menjual tenaga kerja mereka untuk bos dalam pertukaran untuk upah - sekarang diperkirakan berjumlah 2 miliar orang.
Kaum kapitalis di sisi lain merupakan bagian amat kecil dari populasi. Namun mereka memiliki kekuasaan yang sangat besar melalui kepemilikan pribadi mereka dan kontrol atas alat produksi kekayaan dalam masyarakat kita, apakah itu tanah yang subur, tambang, kantor atau pabrik. Mereka adalah orang-orang yang bisa memutuskan apa yang akan diproduksi dan bagaimana itu didistribusikan, yang akan memiliki pekerjaan dan yang akan dilemparkan ke dalam kemiskinan. Mereka adalah orang-orang yang memutuskan apakah sumber daya alam kita akan dijarah atau diawetkan. Mereka adalah orang-orang yang dapat membuat atau menghancurkan pemerintah.
Sebagian masyarakat telah menjadi terpolarisasi antara buruh dan kapitalis, telah semakin dirusak oleh ketidaksetaraan aneh. Di Australia, membayar jumlah paket rata-rata CEO bernilai hampir 100 kali dari upah rata-rata pekerja itu. Secara global konsentrasi kekayaan berarti, menurut sebuah dokumen PBB yang diterbitkan pada tahun 2006, bahwa 1 persen terkaya dewasa sekarang memiliki 40 persen aset global dan 10 persen sendiri 85 persen. Sebaliknya, bagian bawah populasi orang dewasa di dunia - atau sekitar 1,85 miliar orang - memiliki hanya 1 persen dari aset dunia.
Ini adalah bagian dari struktur masyarakat kita, dan itu membantu menjelaskan mengapa kelas tidak hanya ada, tetapi "kamp bermusuhan". Kekayaan mereka tidak hanya datang dari udara tipis. Keuntungan dari kapitalis yang bukan produk dari kejeniusan mereka atau kerja keras, melainkan mereka datang dari pekerja: mereka datang dari membayar kita kurang dari nilai yang kami produksi di tempat kerja. Dan karena kaum kapitalis terkunci dalam persaingan dengan satu sama lain, mereka selalu mencari cara untuk memotong biaya dan memaksimalkan keuntungan yang mereka dapat memeras kita.

Kapitalisme karena itu ditandai dengan perjuangan tidak pernah berakhir antara buruh di satu sisi melawan kapitalis dan sekutu mereka dalam sistem parlementer dan hukum di sisi lain. Perjuangan kelas ini dilancarkan atas tingkat eksploitasi, lebih aman dan kondisi di tempat kerja, apakah layanan penting seperti rumah sakit dan transportasi umum yang bekerja orang kelas mengandalkan akan didanai publik atau privatisasi, dan sebagainya.

Perjuangan kelas ini kadang-kadang tersembunyi dan di lain waktu itu adalah bagian dari perang terbuka. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dalam upaya oleh pemerintah untuk memangkas pengeluaran sosial dan membekukan upah.

"Oleh karena itu apa menghasilkan Borjuis, di atas semua, adalah penggali kubur sendiri." - The Manifesto Komunis

Marx juga benar ketika ia mengatakan bahwa satu-satunya kelompok dalam masyarakat mampu fundamental menantang ketidaksetaraan, perang dan penindasan adalah sangat kelas yang paling terkena dampak hal-hal ini - kelas pekerja. Kengerian kapitalisme pasti mendorong semua korbannya melawan. Tapi Marx berpendapat bahwa kelas buruh memiliki kapasitas khusus untuk menjadi penggali kubur sistem.

Marx melihat kelas bekerja sebagai agen perubahan revolusioner untuk sejumlah alasan. Pertama, kita memiliki nomor di pihak kita. Sebagai penyair Percy Shelley terkenal mengatakan, "Kamu banyak, mereka sedikit". Tapi yang lebih penting dari nomor kami adalah sentralitas pekerja untuk produksi dan keuntungan. Tanpa kerja kita di tempat kerja, bukan roda tunggal industri akan berubah, tidak satu produk akan diproduksi. Jika kita menarik tenaga kerja kami secara massal, sumber keuntungan mereka akan mengering.

Tidak ada kelompok lain dalam masyarakat memiliki kekuatan ini untuk menantang fungsi kapitalisme dalam cara yang mendasar. Kelas buruh menyatukan semua orang - orang kulit hitam, kulit putih, gay, lurus, pria, wanita, dll Sementara semua orang memiliki identitas yang berbeda dalam beberapa cara, itu adalah sebagai pekerja bahwa mereka benar-benar dapat memegang kekuasaan.

Sementara pekerja pasukan kapitalisme untuk bersaing satu sama lain untuk pekerjaan yang langka, perumahan, tempat universitas dan sebagainya, itu membawa kita bersama-sama di dunia kerja di mana kita perlu bekerja sama dengan satu sama lain untuk tempat kerja kita berfungsi. Demikian pula, untuk membawa perekonomian berhenti, kepahlawanan individu tidak akan melakukannya. Hal ini membutuhkan keterlibatan aktif dari rekan kerja kami. Perlunya tindakan kolektif pada gilirannya mengharuskan pekerja membangun organisasi demokratis yang dapat menginspirasi solidaritas dan meyakinkan dan mengatur mayoritas pekerja untuk mengambil tindakan.

Ini adalah sifat ini kolektif kehidupan kelas pekerja dan perjuangan di bawah kapitalisme yang memberikan kita kemampuan untuk menyusun ulang masyarakat demi kepentingan mayoritas. Dalam merebut kendali dari kaum kapitalis, pekerja tidak bisa hanya membagi pabrik-pabrik, rumah sakit dan kantor dan berbagi mereka secara individu - satu orang mengambil tungku baja, lain mesin pemantauan jantung, lain mesin fotokopi. Jelas, tidak ada yang cukup untuk mendukung kehidupan. Satu-satunya cara pekerja dapat menghapuskan kondisi eksploitasi adalah untuk collectivise dan bersosialisasi alat-alat produksi dan distribusi, demokratisasi semua aspek produksi dan pengambilan keputusan.

Mengingat sifat saling tergantung ekonomi dunia, proses ini akan menjadi internasional, maka panggilan Marx bagi pekerja dunia untuk bersatu.

"Ide-ide kelas penguasa dalam setiap kurun jaman ide yang berkuasa." - Ideologi Jerman

Hari ini, hampir semua ide didorong oleh sistem pendidikan, media, perusahaan iklan dll membenarkan kapitalisme seperti itu. Hukum ide termasuk gagasan mobilitas sosial, bahwa jika kita bekerja keras, siapa pun bisa membuatnya. Ketidaksetaraan, sesuai, tidak terstruktur ke dalam sistem. Mereka juga termasuk gagasan bahwa, individualistik, sifat anjing-makan-anjing kompetitif kapitalisme mencerminkan, bukan kepentingan elit, melainkan sifat manusia kita. Dan karena ini "alam", setiap upaya untuk secara radikal mengubah masyarakat melalui perjuangan revolusioner pasti akan berakhir di kediktatoran, jadi sebaiknya kita tidak mencoba.

Sekali lagi, Marx benar ketika ia mengatakan bahwa senjata kunci di tangan kelas penguasa adalah ideologi - sistem ide yang mencoba untuk naturalisasi hak-hak mereka dan posisi bawahan mayoritas orang. Hal ini tidak mengherankan: sistem kapitalis menginjak-injak kebutuhan dan keinginan dari mayoritas orang dalam kepentingan minoritas. Untuk melestarikan status quo dan menghentikan gravedigging, mereka harus berdua putus mayoritas dan memenangkan beberapa dari kami ke gagasan bahwa tidak ada yang lain benar-benar mungkin. Kelas penguasa memiliki di pembuangan sarana menyebarluaskan dan mempromosikan ide-ide pada skala besar.
Ambil media massa, yang memiliki kapasitas untuk membentuk debat publik pada skala nasional. Mereka jauh dari pengamat netral. Untuk mengalihkan perhatian dari masalah nyata - seperti angkutan umum omong kosong dan rumah sakit penuh sesak - media bantuan stoke sentimen anti-pengungsi setiap kali mereka memutuskan untuk memberikan politisi cakupan prime time untuk berbicara sulit tentang "menghentikan perahu". Mengapa ada orang bahkan melihat, apalagi membenci, pengungsi putus asa jika bukan karena media massa membawa cerita halaman depan mengumumkan kedatangan mereka?

Lembaga kunci lain untuk penyebaran ide-ide dalam masyarakat kita adalah sistem pendidikan, di mana kita diajarkan bahwa untuk mendapatkan oleh dalam masyarakat Anda perlu mematuhi aturan dan menghormati atau setidaknya mentoleransi otoritas mereka atas Anda. Ini adalah jenis dari pelajaran kelas penguasa kami berharap Anda akan mengambil dengan Anda ke tenaga kerja. Kami juga diajarkan tentang bagaimana sejarah dibuat oleh orang-orang besar (dan perempuan sangat, sangat jarang yang besar), mengecilkan peran yang massa orang biasa telah dimainkan dalam menciptakan perubahan sejarah.

Realitas kehidupan di bawah kapitalisme juga berperan dalam memperkuat ide pro-kapitalis. Misalnya, karena diskriminasi seksis dalam masyarakat kita, wanita umumnya lebih rendah dalam pekerjaan dibayar yang membawa otoritas kurang. Fakta ini pada gilirannya dapat memperkuat ideologi bahwa perempuan secara alami rendah. Norma bawah kapitalisme dapat menjadi didirikan sebagai alam bukannya melihat untuk apa yang mereka - sebuah konstruksi sosial.

Namun, sementara yang berkuasa ide kelas yang dominan, mereka tidak pernah benar-benar hegemonik. Pengalaman hidup di bawah kapitalisme tidak hanya makin mengukuhkan berkuasa ide, juga bentrok dengan mereka. Misalnya, janji mobilitas sosial bahwa kapitalisme memegang keluar untuk kita terus berlari terhadap batu-batu dari krisis ekonomi; di negara terkaya di dunia, misalnya, 1 di 7 di AS sekarang mengandalkan kupon makanan untuk bertahan hidup.

Bentrokan menghasilkan campuran dari ide-ide yang kontradiktif dan dicampur di kepala pekerja. Sebagian besar pekerja menerima aspek ideologi kapitalis pada saat yang sama sebagai memegang ide oposisi. Jika ini tidak terjadi, jika kita semua dicuci otak, perubahan sosial yang radikal akan semua tapi mustahil. Hak-hak sipil dan gerakan perempuan, yang tantangan langsung terhadap ide-ide yang berkuasa, tidak mungkin terjadi.

Kunci untuk meruntuhkan ide-ide yang berkuasa adalah perjuangan kelas itu sendiri. Ketika pekerja mogok itu dapat mengungkapkan kepada mereka kekuatan sosial yang nyata bahwa mereka memiliki. Hal ini dapat mengungkapkan betapa sangat diperlukan kita untuk kaum kapitalis dan betapa sedikit kita benar-benar membutuhkannya. Hal ini juga dapat merusak ide fanatik bahwa pekerja dapat memegang, karena sukses perjuangan kelas pekerja membutuhkan kesatuan dalam tindakan dan solidaritas.

Divisi bahwa kelas kapitalis mencoba untuk menabur, seperti seksisme dan rasisme, dapat diatasi karena penindasan khusus satu bagian dari kelas pekerja benar-benar menetapkan kembali seluruh kelas. Seperti Marx menulis dalam Capital, "Buruh tidak bisa membebaskan dirinya dalam kulit putih mana dalam hitam itu bermerek".

"Filsuf hanya menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; intinya adalah untuk mengubahnya "-. Theses on Feuerbach

Marx bukanlah pemikir kursi. Dia berargumen bahwa hanya memahami dunia - mengetahui alasan sebenarnya untuk perang, mengetahui tentang kebohongan push kelas penguasa, mengetahui bahwa kekayaan mereka didasarkan pada eksploitasi kami - tidak akan mengubahnya.

Bagi Marx, mendapatkan wawasan yang lebih dalam kontradiksi kapitalisme tidak beberapa latihan murni intelektual. Titik mengembangkan teori itu sehingga bisa menginformasikan praktek politiknya. Titik belajar tentang perjuangan sejarah begitu dia bisa lebih memahami apa yang tuas yang paling efektif untuk mengubah masyarakat.

Ide saja tidak cukup untuk mengubah dunia di sekitar kita. Itu bukan ide kebebasan, persaudaraan dan persamaan yang dipotong kepala aristokrasi selama revolusi Perancis. Untuk gagasan untuk memiliki kekuatan, terutama yang menjalankan sepenuhnya bertentangan dengan akal sehat di bawah kapitalisme, mereka perlu diorganisasikan, mereka harus diwujudkan dalam tindakan bekerja pria kelas dan perempuan, yang mengapa Marx memainkan peran utama dalam radikal organisasi seperti Liga Komunis dan Asosiasi Buruh Internasional.
Jauh dari menjadi determinis mekanik, Marx memahami bahwa kemenangan sosialisme atas kapitalisme tidak bisa dihindari. Kapitalisme, meskipun didera oleh kontradiksi internal dan krisis ekonomi periodik, tidak akan runtuh dengan sendirinya. Perubahan sosial yang revolusioner perlu diperjuangkan.

Memang untuk mencapai perubahan sosial yang progresif kita perlu menuntut, agitasi dan mengatur untuk itu. Jika Anda ingin melihat mengakhiri perang pembunuh; jika Anda ingin menang kesetaraan perkawinan bagi orang-orang LGBTI; jika Anda ingin melihat para pengungsi dibebaskan dari kandang bahwa pemerintah kita mengunci mereka dalam, maka Anda harus menempatkan tindakan Anda di mana mulut Anda. Sebagai perbudakan besar Frederick Douglass mengatakan, "Power mengakui apa-apa tanpa permintaan".

Hanya sekilas pada sejarah menegaskan hal ini. Hal ini bekerja orang kelas yang harus berjuang untuk memenangkan hari 8 jam. Hal ini bekerja orang kelas yang telah berjuang untuk dan terus berjuang untuk upah yang sama bagi perempuan. Tak satu pun dari keuntungan ini diserahkan kepada kami oleh beberapa hukum impersonal dari pembangunan ekonomi. Atau yang mereka dijatuhkan oleh beberapa politisi baik hati.

Macan tutul tidak berubah tempat nya. Kapitalisme abad kedua puluh satu terus mendalami darah dan penderitaan orang-orang biasa. Sudah saatnya generasi kita belajar bagaimana untuk melawan dengan semangat dan keuletan terhadap binatang ini.
[Artikel ini pertama kali diterbitkan di majalah Alternative Sosialis pada bulan Januari 2011. arsip online Sosialis Alternatif dan Direct Action (koran partai Revolusioner Sosialis, yang bergabung dengan SA pada tahun 2013) sekarang tersedia di Sosialis Alternatif situs diperbarui sa.org. au.]
dan kemudian di Terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abd. Rachman / Ame’ (28/08/2015)