photo hhhhhhhhiii_zps9dd37855.jpeg" />  photo hhdrhhdhdrhdh_zps2794a59b.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />  photo 565465645565_zps62adc85f.jpeg" />
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 September 2016

Tulisan Balasan Kepada Nurham Sadiq (Nusantarakan Parepare)


Sumber : http://ceritadisana.blogspot.co.id/
Warta Kampus, Parepare,- Tepat disudut belakang Busway yang saya tumpangi dari halte harmoni menuju kampung melayu, saya duduk menopang dagu dengan paras berpancar senyum saat itu sedang membaca catatan singkat dari Kanda Nurham Sadiq yang beliau post di salah satu media sosial. Saya membaca dengan cermat walau dengan mobile phone yang berkapasitas standar.

Catatan singkat yang bertajuk Nusantarakan Parepare, mencoba  menggambarkan begitu beragamnya Parepare, tidak hanya itu, (menurut si empunya catatan) Parepare kaya akan karakter, mulai dari letak geografis sampai pada tatanan budaya masyarakat kota parepare. Catatan yang diulas dengan sedikit pengantar dari buku Pandji (pekerja seni/artis) NASIONAL – IS – ME. Buku yang mencoba menggambarkan keberagaman Indonesia, yang pada buku itu tidak saya temukan arti sebenarnya kata “Nasionalisme” selain kecintaan terhadap bangsa yang dilandasi dari keindahan bumi pertiwi dan jalan-jalannya si penulis di beberapa daerah di Indonesia selanjutnya kejutan-kejutan yang ia temui. Tak kudapati bagaimana Nasionalisme Indonesia ini terbangun, atau bagaimana asal muasal nasionalisme Indonesia, serta apa sikap dan pandangannya atas pembangunan Nusantara yang dipenuhi darah manusia-manusia yang punya perspektif nasion tersendiri, yang kemudian dilenyap dan dibumi hanguskan oleh Gadjah Mada dengan pembenaran “Pembentukan Nusantara”. Sebuah alasan yang tak logis dimasa dewasa ini, (melenyapkan nasion kelompok lain dan menggantinya dengan nasion dengan cultur javanism/jawanisme, dan belum tentu diingini apalagi sesuai dengan dasar sebuah nasional kelompok tersebut, kelompok yang dilenyapkan).

Lanjut ke catatan Kanda Nurham, pada dasarnya saya hanya ingin memberikan tanggapan 
dan tambahan atas apa yg diuraikan dalam catatan tersebut. Menyoal kota Parepare yang merupakan kota kecil yang kental dengan budaya bugis islami, sebagai bukti ekspansi suku bugis. Seperti yang dituliskan oleh Kanda Nurham bahwa dari budaya Bugis kemudian melahirkan bermacam karakter masyarakat yang bisa dinilai dari gaya bahasa atau lebih kepada intonasi saat berbicara. Atau dengan istilah yang sering disebut oleh masyarakat Sulawesi pada umumnya “Bugis kasar dan Bugis halus”. Tak hanya soal bahasa dan perilaku yang dikontruksi kultur Bugis, Kanda Nurham juga mencoba menguraikan tentang Parepare dari keunikan letak geografisnya yang belum tentu dimiliki oleh daerah-daerah lain, memang tidak bisa dinafikkan bahwa Kota Parepare menjadi salah-satu daerah dari sedikit daerah di Indonesia yang hampir semua sifat geografis ia miliki, mulai dari pesisir, daratan tinggi dan rendah, sampai pada pegunungan. Tapi menurutku, itu tak cukup jika hanya menjadi kebanggaan semata, karena pada dasarnya dan pada hukum ekonomi politiknya dalam bidang tata ruang kota, Parepare dengan kekhasan seperti itu menjadi magnet dan daya tarik bagi pemodal internasional, nasional, sampai domestic . Selain Potensi kota wisata dan niaga, Parepare yang masih banyak lahan kosong ini, juga menjadi daya tarik bagi pemodal untuk berinvestasi, terbukti bahwa ternyata dalam beberapa kebijakan, mulai dari MP3EI (SBY-Jokowi), MEA, PAKET EKONOMI JILID I – IV, KAPET, dll,  Parepare menjadi salah-satu daerah di Sulawesi yang mendapat prioritas pembangunan ekonominya, mulai dari penataan kota (Mattiro tasi – Perombakan jalan – Fly Over – Pengkotakan kelompok masyarakat), dan pembangunan infrastuktur pendukung modal seperti (Jalur Kereta Api – kawasan Industri – pelabuhan internasional, dll), sampai hari ini, kabarnya sudah banyak pemodal asing maupun domestic yang berebut lahan di parepare,  bahkan prediksi yang lahir dari kelompok diskusi Lingkar Studi Sosialis Jogja menilai bahwa konsep “Ajatappareng” menjadi salah-satu pendukung untuk merombak basis ekonomi Parepare dan daerah-daerah yang termasuk dalam Ajatappareng, artinya bahwa parepare menjadi pusat atau sentral produksi dan distribusi bahan baku dari daerah tetangga, hingga dengan perlahan basis struktur Ajatappareng beralih dari pertanian menjadi industrialisasi, dengan melakukan pembersihan lahan perkebunan dan persawahan yang kemudian diubah menajdi kawasan industry, kawasan niaga, perhotelan, perumahan dan wisata dadakan. Dan seringkali pembersihan lahan itu dilakukan dengan pembelian lahan dengan harga mahal kepada warga, agar warga mudah untuk melepas lahannya, atau secara keji tapi soft dengan melakukan pembakaran lahan atau bahkan perumahan warga di daerah pinggiran.

Lantas apakah kita akan berbangga dengan pembangunan itu ? kalau mengekor ke tulisan kanda Nurham  sudah pasti bangga dan mengeluh-eluh kan pembangunan itu, bisa jadi hari ini Makassar dalam pembangunan kota dunia, mungkin beberapa tahun kemudian Parepare menjadi target berikutnya, sekali lagi apakah kita akan berbangga dengan hal itu ?

Melanjutkan hasil diskusi teman-teman Mahasiswa Jogja tentang situasi daerah Parepare, dari konsep Ajatappareng yang mencoba mengindustrialisasi pertanian dan perkebunan yang menjadi basis ekonomi atau basis struktur mayoritas masyarakat daerah-daerah yang termasuk didalam Ajatappareng dan menjadikan Parepare sebagai pusat dari pada produksi dan distribusi, akan meninggikan persentase tingkat urbanisasi atau perpindahan orang-orang dari daerah tetangga sampai ke daerah lain di Sulawesi atau mungkin dari luar Sulawesi, yang pada dasarnya dari penigkatan urbanisasi itu akan meningkat pula jumlah pengangguran, masyarakat miskin kota dan sudah pasti akan berakhir pada penyingkiran, pemarjinalan, dan penggusuran (dalam bahasa pemerintahan “penertiban”). Dan begitu seterusnya  

Selain itu, pengindustrialisasian atau bahasa kerennya, peng-Kapitalisasi-an Kota parepare akan berdampak pada semua sector tidak hanya ekonomi dan politik, tapi juga pendidikan, budaya, yang kemudian melahirkan struktur masyarakat serta karakter masyarakat yang didasarkan pada pembangunan tersebut, yang awalnya masyarakat parepare (seperti yang dituliskan Nurham, Dermawan, atau berjiwa social tinggi) kedepan sudah jelas akan sebaliknya menjadi masyarakat yang individualistik, modernistik, yang kemudian budaya gotong royong tak lagi dikenal. Sebelum berlanjut  pada dampak-dampak pembangunan, saya mau menerangkan bahwa pembangunan di abad 21 ini, bukanlah pembangunan yang berpihak kepada rakyat  yang ekonominya menengah kebawah, lanjut, karena dalam sector ekonomi, pembangunan itu sejatinya adalah liberalisasi pasar atau neoliberalisme, yang membuat kesenjangan yang sangat signifikan antara pengusaha dengan modal besar dan pengusaha dengan modal kecil, mulai dari kekalahn dalam melakukan ekspansi sampai pada akumulasi keuntungan. Dari sector politik akan melahirkan kebobrokan-kebobrokan politisi (seperti yang disebutkan juga oleh Kanda Nurham) seperti kebijakan-kebijakan atau PERDA didasarkan pada kepentingan pengusahan modal besar, yang sejatinya tidak berpihak pada masyarakat local. Selain pemerintahan yang melahirkan kebijakan-kebijakan dari runutan MEA, MP3EI, Paket Ekonomi JOKOWI-JK, dan lingkaran-lingkaran setan lainnya, situasi politik juga akan semakin menegasikan moral baik politisi hingga kemudian yang kita lihat hanyalah, klik diantara kelompok/individu, meningkatnya budaya korupsi, dan kebejatan-kebejatan pemerintah lainnya, layaknya di Ibu kota atau kota-kota megapolitan dan metropolitan.

Semua dampak yang lahir dari peng-kapitalisasi-an tersebut akan merembet kesemua sector seperti yang saya tuliskan sebelumnya. Dan sekali lagi dan untuk yang kesekian kalinya, apakah kita akan berbangga hati ? entah apa yang ada dipikiran seorang Presiden Mahasiswa dan ketua cabang ormas mahasiswa sekaliber PMII (pergerakan mahasiswa islam Indonesia) yang punya keberagaman track recor, seperti kanda Nurham Sadiq. yang kemudian tidak mencoba atau mungkin (tidak mampu) menganalisa dampak dari pada pembangunan atau apa kesejatian dari pada pembangunan yang terjadi di kota Bandar Madani Parepare. Atau mungkin tulisan yang saya balas ini hanya menjadi maneuver atau batu loncatan untuk step berikutnya dalam merajut karir politiknya di Kota Parepare seperti senior-senior lainnya di PMII ? yah mungkin memang benar, dan NU(rham -SA(diq)-ntara bisa menjadi kata kunci saat kampanye di masa mendatang. Hingga berbaur bersama politisi-politisi daerah dengan kebobrokan-kebobrokan seperti yang kutuliskan di atas.

Terakhir, (seperti apa yang terlintas dalam benak saya setelah turun dari busway kampong melayu), tulisan yang pada dasarnya balasan terhadap tulisan Kanda Nurham Sadiq, tidak mencoba menyudutkan dengan analisa subjektifku, tapi hanya mencoba dan memancing diskusi kecil yang semoga melahirkan sesuatu yang besar, entah diskusi dengan berbalas tulisan, komentar di media social, atau mungkin disuatu waktu dan di satu tempat di kota parepare kita bisa melanjut komunikasi.

Ket : tulisan ini dikirim via email oleh Fazlul Rachman (Koordinator Harian: Lingkar Study Mahasiswa Parepare – Jakarta)  

Selasa, 26 Januari 2016

Apakah Mahasiswa "Benar" Agen perubahan ?

Sumber Foto : Google Image
Gerakan mahasiswa dari sepanjang sejarah perlawanannya, memberikan keunikan tersendiri dalam setiap gerak perjuangan mahasiswa menuntut keadilan bagi setiap masyarakat yang tertindas dan "bodoh". Apakah gerakan perlawanan mereka dilandasi oleh kesadaran, atau sebatas memperlihatkan popularitas intelektulisme mahasiswa.? Baik atau buruknya gerakan mahasiswa, tetap menjadi pelajaran sejarah perlawan atas ketidak adilan sistem yang ada. 
Apa yang bisa kita ambil dari sejarah gerakan mahasiswa ini.? Ada beberapa buah pelajaran yang bisa kita petik, yang pertama adalah pengetahuan. dengan pengetahuan ini, kita bisa melihat dan merasakan dengan sadar bahwa ketertindasan itu ada, kemudian dengan pengetahuan pulalah kita bisa memberikan solusi dari sistem yang menindas itu. Gerakan rakyat yang tidak sadar atas ketertindasannya, dengan pengetahuan, gerakan-gerakan yang ada dalam sejarah manusia, menjadi landasan teori progresif untuk melakukan suatu perubahan yang benar-benar memihak terhadap kepentingan massa rakyat seluruhnya. 
Dengan kesalahan-kesalahan gerakan mahasiswa, dimana gerakan mahasiswa hanya bisa menumbangkan penguasa sistem tanpah merobah sistem yang ada, ini adalah pelajaran besar bagi gerakan-gerakan selanjutnya, baik itu gerakan buruh, tani, nelayan,pemuda, siswa/pelajar maupun gerakan mahasiswa itu sendiri. Dengan kemajuan kesadaran gerakan-gerakan mahasiswa, mahasiswa akan sadar bahwa kegagalan pola gerakan meraka karena tidak adanya pendukung dari gerakan rakyat umumnya, gerakan mahasiswa hanya dijadikan sebagai gerakan seremonial saja, atau gerakan yang bertujuan untuk mengejar persoalan popularitas atas penguasa. Ketika penguasa memandang gerakan mahasiswa sebagai landasan dari munculnya gerakan-gerakan rakyat, maka penguasapun merekrut dan memberikan posisi yang lebih nyaman, dan watak perlawanannyapun akan hilang di telan posisi yang menyenangkan itu (persis yang terjadi pada tahun 1965 baca: soe hok gie, dan 1998 dimana massa mahasiswa dari berbagai kampus mengepung gedung Dewan Perwakilan Rkayat DPR-RI). 
Tidak bisa kita pungkiri bahwa gerakan mahasiswa adalah gerakan elitis dan mempunyai sikap inkonsistenan dalam keberpihakan. Apakah gerakan mahasiswa berpihak atas rakyat tertindas atau berpihak pada penguasa yang menindas yang didukung sistem yang menindas pula. Dengan kesadaran lebih maju dari gerakan mahasiswa adalah bagaimana gerakan mahasiswa tahu atas masa depan, baik itu masadepan mahasiswa maupun masa depan rakyat tertindas. Ketika mahasiswa, pemuda, dan pelajar dalam tataran gerak yang mekanis maka orientasi gerakannyapun akan membawa kesengsaraan baru atas rakyat pada umumnya.

Pertarungan ummat manusia sepanjang sejarahnya akan pecah ketika titik klimaks penindasan yang dilakukan penguasa dengan menggunakan modal sebagai senjatah ampuhnya. Posisi gerakan mahasiswa, pemuda, dan pelajar ada dimana.? Apakah membantu kaum penindas ataukah kaum yang tertindas.

Mahasiswa Berpihak Pada Penindas Ataukah Rakyat Tertindas.?

Kita kembali lagi pada rekaman sejarah perlawanan mahasiswa, di negara manapun, gerakan mahasiswa mengkonsolidasikan diri untuk melakukan protes tajam terhadap penguasa yang tak berpihak pada massa rakyat tertindas. Sejarah gerakan mahasiswa dinunia Eropa, Amerika Latin, sampai di Asia (termasuk indonesia) melakukan aksi pemberontakan yang mengarah pada kepentingan rakyat tertindas, massa mahasiswa yang tergantung dengan orang tua mereka dalam menjalani gerak intelektualitasnya, dengan adanaya keterkantungan secara ekonomis massa mahasiswa dengan orang tua mereka, dapat mengakibatkan potensi besar, dimana integritas arah gerakan mahasiswa yang dahulunya mempertahankan dan memperjuangkan kepentinga mayoritas massa rakyat tertindas berputar arah memusuhi rakyat dan mendukung kepentingan modal (kapitalisme, imperialisme, kolonialisme).

Mahasiswa adalah masyarakat intelektual yang mempunyai waktu luang yang luang untuk melakukan aktivitas dalam menganalisa dan merancang berbagai solusi dari ketidak stabilan, penindasan, dan penghisapan kehidupan di masyarakat dan kehidupan didalam kampus dibawah kontrol penguasa yang menganut paham kapitalisme, Neo-liberalisme.

Dengan terpaksa massa mahasiswa dengan segala keluguan mereka dalam proses transisi dari sistem yang menindas menuju sistem yang memanusiakan-manusia, merancang berbagai strategi-taktik untuk melawan sang peguasa kampus yang menjadikan kampus sebaga ajang merauk keuntungan yang besar, dimana mahasiswa/siswa dalam transaksi barter yang memakai materi uang sebagai standar yang legal dalam transaksi pasar pendidikan. Siswa sebagai konsumen (pelanggan yang ditetapkan waktunya), dalam transaksi tersebut membuat massa mahasiswa dengan semangat kebebasannya melakukan pemberontakan-pemberontakan kecil di kampus mereka yang penuh dengan diskriminatif, pembodohan, dan lebih parah lagi adalah penyumbang sia-sia atas modal pendidikan.

Pengepungan kampus yang dilakukan oleh massa mahasiswa, seperti yang terjadi di dunia Eropa (prancis, inggris, jerman, italy, dll) masa mahasiswa melakukan pemogokan kuliah karena tuntutan-tuntutan mereka tak dipenuhi dan yang lebih memonjol pada warna gerakan mereka adalah, karena adanya sistem yang ada dinegara mereka yang hanya menindas kaum mayoritas massa rakyat pekerja (buruh) dimana kebayakan dari mahasiswa mempunyai orang tua yang pendapatannya rendah, karena upah orang tua mereka rendah tidak mencukupi biaya pendidikan para maka akan berdampak secara langsung kepada massa mahasiswa yang orangtuanya bekerja sebagai buruh yang upahnya rendah. Dengan adanya kondisi seperti ini, maka dengan kesadaran massa mahasiswa akan mengarah pada penghapusan sistem penindasan dan penghisapan manusia atas manusia, tetapi, massa mahasiswa dengan watak ke-intelektuala-nya yang merupakan borjuis kecil, klas menengah yang dengan tanpa kesadaran revolusioner akan mengarah pada keberpihakan terhadap kaum borjuis besar.

Dengan adanya kondisi seperti ini juga yang harus diperhatikan para massa mahasiswa yang progresif revolusioner, hegemoni kapitalistik yang individualis mendominasi dalam ranah hidup manusia baik di pabrik, aktivitas masyarakat, sekolah, kampus dll. membuat kita sadar bahwa perjuangan sangatlah susah, tetapi bukan berarti, penghapusan atas sistem penidasan (revolusi) itu mustahil adanya. Kita mengingat dasar pemikiran kita yaitu dialektika dimana hukum negasi ke negasi akan tetap ada dalam basis material objektif, dan basis material itu adalah penindasan yang dialami mayoritas massa rakyat tertindas (buruh, tani, nelayan, kaum miskin kota, desa dan mahasiswa/pelajar).

Gerakan Massa Mahasiswa Dan Massa Rakyat Tertindas

Gerakan mahasiswa, pemuda, pelajar dan rakyat adalah dua kekuatan gerakan perubahan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, meskipun darai massa gerakan mahasiswa yang cenderung ke kekuatan modal tetapi dengan kesdarannya membangkitkan semangat perlawanan di segala lini disgalah sektor rakyat tertindas, secara pribadi menurutku tentang gerakan mahasiswa sebagai agen perubah sangatlah istimewah meskipun sepanjang sejarah mahasiswa yang selalu mengarah pada kondisi perebutan kekuasaan.

Gerakan mahasiswa bukan sebagai agen perubah yang secara fundamental, tetapi justru dengan gerakan mahasiswa melakukan sebuah agitasi propaganda kepada mayoritas rakyat tertindas untuk melakukan perlawan terhadap sistem kapitalisme yang menghisap hasil kerja dari klas pekerja. Dengan adanya penghisapan dan penidasan terhadap rakyat pekerja, maka gerakan rakyatlah (pemberontakan klas pekerja) sebagai tonggak daripada perubahan untuk keluar dari penghisapan dan penindasan sistem kapitalisme menuju sistem yang memanusiakan-manusia.

Penulis : Busta Tato

SIENNA ZOE : GEMA PEMBEBASAN Lebih Massif Dari Sesamanya “Ormas Mahasiswa Background Islam”


Sumber Foto : Google Image
“Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan kelompok-kelompok mahasiswa apapun dan manapun, tulisan ini hanya penilaian subjektifku setelah beberapa bulan di Indonesia dan mengamati gerakan mahasiswa di Indonesia”
Sienna Zoe

Nama saya Sienna Zoe, saya berasal dari Australia. Saya adalah seorang mahasiswi dari salah satu Universitas di Australia. Awal Maret 2015 kemarin saya berkunjung ke Indonesia untuk beberapa keperluan selain liburan, salah satunya ialah mengamati perkembangan Gerakan mahasiswa di Indonesia. Indonesia sepengetahuanku adalah salah-satu negara yang gerakan mahasiswanya begitu dinamis dari masa ke masa. Berbagai macam kelompok mahasiswa lahir dan menorehkan sejarahnya dalam mengemban tugas seperti yang dikatakan Bung Karno yaitu penyambung lidah rakyat, atau mungkin seperti lafalan-lafalan yang dibangga-banggakan mahasiswa Indonesia yaitu “Agent Of Change”, walau pada kenyataannya banyak juga yang menodai kebanggaan itu.

Sejak berdirinya rezim kedua yaitu Orde Baru, gerakan mahasiswa seakan tak terlihat lagi. tapi ternyata tidak ! gerakan mahasiswa justru lebih massif dengan kontradiksi yang dilahirkan orde baru, walaupun geraknya dibawa tanah. Tapi harus diakui bahwa gerakan mahasiswa di zaman orde baru tak terlihat dan terdengar oleh kaca mata penguasa karena mulut-mulutnya di sumbat oleh represif dan kebijakan-kebijakan yang mempersempit ruang gerak mahasiswa yang sedikit radikal dan menentang kekuasaan pada waktu itu. namun terbukti jelas kemassifannya, puncaknya di tahun 97-98 setelah krisis yang dialami oleh Indonesia yang kemudian dijadikan momentum yang pas oleh beberapa unsur mahasiswa yang tadinya sibuk di bawa tanah untuk kemudian bangkit ke atas dan memassifkan gerakannya di depan penguasa. 

Gerakan mahasiswa dan rakyat berhasil menumbangkan Soeharto walaupun tak sedikit juga mahasiswa-mahasiswa yang menjadi korban di beberapa peristiwa yang serangkaian di tahun 97-98 tersebut.

Setelah berakhirnya orde baru, yang pada awalnya mahasiswa teriak Revolusi namun pada kenyataannya Reformasilah yang menjadi solusi yang sampai hari ini belum juga menuai perubahan yang signifikan. 

Beberapa tahun setelah berakhirnya orde baru, gerakan mahasiswa justru mengalami kemunduran. padahal kebebasan berorganisasi dan berpendapat sudah semakin diperluas ruangnya. Semua itu tidak terlepas dari beberapa kebijakan yang pada orde baru dilahirkan namun kini masih saja ada dan diberlakukan. 

NKK / BKK menjadi salah satu bukti kongkrit pemasung gerakan mahasiswa secara soft. NKK / BKK datang sebagai alat untuk meredam kegiatan mahasiswa yang terfokus sibuk di luar kampus. maksudnya, NKK / BKK seakan mengikis eksistensi organisasi-organisasi eksternal kampus memaksa mahasiswa lebih aktif dan sibuk didalam kampus entah itu menjadi seorang akademisi tulen atau sibuk di UKM –UKM kampus. Itulah yang disebut terperangkap dalam tempurung atau mungkin harimau forum yang telah patah taring.

Gerakan mahasiswa yang meredup itu, ditambah lagi dengan penyakit-penyakit lainnya seperti sektarian atau eksklusif dalam geraknya. di Indonesia gerakan mahasiswa di bagi dalam beberapa specturm (pertama) mahasiswa yang berorientasikan demokrasi kerakyatan atau sayap kiri dan gerakan mahasiswa yang moralis reformis atau sering disebutnya Cipayung. 

Dalam tulisan ku ini saya akan sedikit menyinggung soal gerakan mahasiswa cipayung yang secara kuantitas tak di ragukan lagi namun dalam pencapaian geraknya seakan tumpang tindih dengan kuantitasnya. beberapa organisasi yang sempat saya kunjungi diantaranya GMKI Gerakan mahasiswa Kristen Indonesia, GMNI Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia, PMII Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, HMI Himpunan Mahasiswa Islam, dan Terakhir IMM Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. dari diskusi dengan beberapa teman dari berbagi unsur gerakan mahasiswa yang kutuliskan diatas, baru kuketahui bahwa, gerakan mahasiswa cipayung ternyata mempunyai relasi kuat dengan beberapa partai politik, itulah yang kemudian menjadi salah-satu pendorong secara kuantitas tak mampu disaingi. Sebut saja HMI, beberapa senior-seniornya merupakan kader-kader beberapa partai politik di Indonesia, belum lagi PMII yang beberapa tahun ini memutus relasi secara hirarki dengan NU (Organisasi Islam terbesar di Indonesia) yang juga sempat ikut dalam partai demokrasi di Indonesia walau sekarang lebih condong ke PKB, kemudian IMM yang menyambung kedekatan dengan PAN, dan kemudian GMNI yang secara terang menjadi underbow Partai yang saat ini berkuasa di Indonesia yaitu PDIP.

Namun harus di akui juga bahwa gerakan mahasiswa cipayung menjadi bagian dari beberapa prestasi yang pernah di capai oleh Gerakan mahasiswa secara keseluruhan. HMI yang merupakan organisasi Islam yang tertua, juga dalam sejarahnya banyak memberikan kontribusi dalam gerakan mahasiswa terkhusus mahasiswa Islam di Indonesia.

Pada kenyataannya hari ini, Rezim kerakyatan yang berkuasa (katanya). namun secara realisasinya justru sudah banyak peristiwa yang terjadi belum mampu diselesaikan dengan benar serta kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan yang menunjukkan bahwa rezim hari ini tidak pro terhadap rakyat Indonesia. 

kembali lagi kita mempertanyakan, dimanakah organisasi mahasiswa yang kaderisasinya tak terputus itu ? apakah masih eksis menyikapi issu-issu yang ada ? atau kah justru sibuk beronani di dalam kampusnya.

dibalik kesibukan interen PMII, IMM, GMKI, dan HMI. saya terpukau dengan kemassifan Gerakan Mahasiswa pembebasan yang merupakan undebow organisasi Islam yang berperspektif Syariat Islam atau yang sering kita dengan ke-khilafah-an. setelah mengikuti berita maupun terlibat langsung dengan aktifitas GEMA PEMBEBASAN, ada beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil, pertama, kemassifan gerakan yang selalu dibangun beriringan dengan kaderisasi yang juga terus berjalan.

GEMA PEMBEBASAN aktif juga menyelenggarakan pendidikan-pendidikan dikampus maupun diluar kampus, diskusi atau dialog terbuka hampir tiap saat terdengar dan tersiarkan sebagai salah-satu bentuk propaganda gerakan. dan menyikapi issu lokal, nasional bahkan internasional pun sering kita dengar dan lihat, entah melakukan aksi demonstrasi ataupun aksi yang sepesifiknya berbentuk forum. menurutku itu salah-satu bentuk kerja politik yang matang dan bertujuan matang pula.

Walaupun GEMA PEMBEBASAN termasuk minoriti dalam hal kuantitas, setidaknya mereka mampu mempertahankan eksistensinya dalam menyikapi issu-issu yang ada. dalam hal perspektif, harus diakui juga bahwa GEMA PEMBEBASAN yang secara langsung terintegrasi dengan Hisbuttahrir Indonesia HTI bertujuan membangun kembali kerajaan Tuhan atau Khilafah, yang pada dasarnya tidak hanya meliputi satu daerah/kota, negara atau wilayah tapi skala dunia.

Pandangan subyektifku, memang tidak serta-merta meng-iya-kan apa yang kemudian menjadi ujung perjuangan teman-teman di GEMA PEMBEBASAN ataupun HTI, bukan atas dasar “saya “ yang beragama Nasrani, tetapi pada kenyataannya Khilafah belumlah menjadi sesuatu yang mendesak untuk menjadi penawar bagi sistem ekonomi-politik kapitalisme yang bervisi Neo-liberalisme. Namun tidak juga kemudian menolak dan menghakiminya dengan vonis justifikasi “Checkmate”. Menurutku semua individu atau pun kelompok bebas berargumen ataupun berpendapat, bebas menggagas tawaran-tawarannya untuk perubahan keseluruhan di Dunia ini, yang terpenting ialah bagaimana merasionalisasi gagasan itu dan bagaimana memperjuangkannya.

Terima Kasih.

di Terjemahkan Oleh : Doel R. Siregar

Selvi Tridayani : Berhijab Bukti Taat

Sumber : Google Image
Hidayah itu dijemput, bukan sekedar ditunggu itulah kata-kata yang harus kita ingat dalam fikiran kita. Allah swt punya segala macam cara dan segala macam perantara untuk menyadarkan seseorang. Allah maha besar...:) 

Islam merupakan satu-satunya jawaban atas berbagai macam kegaulan yang dialami oleh muslimah. Islam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh muslimah yaitu dengan solusi yang setuntas...tuntasnya.siapapun yang saat ini sedang"Hidup"pastilah butuh kejelasan hidup ini mau berjalan kearah mana ? Apa yang dibutuhkan agar perjalanan hidup ini menyenangkan dan selamat. 

Nah, untuk mencari jawabannya."kemana kita akan berjalan"jawaban pertanyaan ini harus kita kembalikan kepada yang ciptain kita ya, apa sich maksud Allah swt menciptakan manusia? Ternyata jawaban ini semua ada didalam Al-quran loh... Surah Adz-Dzariyat ayat 56 Artinya:Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku. Nah, sobat muslim jadi maksud penciptaan kita-kita nih ya adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Para Muslimah tau nggak sich"ibadah"itu sebagai bukti taat kita kepada Allah swt, bukti terima kasih kita kepada Allah swt, bukti rasa malu kita kepada Allah swt. 

Sobat muslim, hijab adalah penutup, hijab adalah penghalang didalam hijab ada yang kita kenal dengan jilbab dan kerudung.jilbab dalam Al-quran, terdapat dalam bentuk pluralnya,yaitu"jalaabib"ayat Al-quran yang menyebut kata"jalaabib"adalah firman Allah swt (artinya),"Hai nabi,katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin "hendaklah mereka menggulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka," (Arab:yu dhiina'alaihina min jalaabiihina ).(Qs Al-ahzab{33}:59).menafsirkan ayat ini imam Al Qurthubi berkata,kata jalaabiib adalah bentuk jamak dari jilbab,yaitu baju yang lebih besar ukurannya dari pada kerudung ( akbar min al khimar ).  

Diriwayatkan bahwa ibnu abbas dan ibnu mas'ud berpendapat bahwa jilbab artinya ar ridaa' (pakaian sejenis jabah/gamis).ada yang berpendapat jilbab adalah alqinaa'( kudung kepala wanita atau cadar ).
pendapat yang shahih, jilbab itu adalah baju yang menutupi seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan (al tsaub alladz yasturu jamii'al badan),"(imam Al Qurthubi,tafsir Al Qurthubi,14/107),adapun kerudung dalam Al-quran disebut dengan istilah"khumur"(plural dari khimar)bukan dengan istilahjilbab,"kata"khumur"terdapat dalam firman Allah swt(Artinya),"Dan hendaklah mereka (para wanita)menutuokan kain kerudung kepada mereka "(Arab:walyadhribha bi khumurihinna'ala juyubuhina)"(Qs An-nuur {24:).
imam ibnu katsir dalam kitabnya tafsir ibnu katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud "khimar"adalah apa-apa yang digunakan untuk menutupi kepala (maa yuahaththa bin ar ras'su ( tafsir ibnu katsir,4/227).dengan kata lain tafsir dari kata "khimar"tersebut jika dialihkan kedalam bahasa indonesia  yang artinya kerudung.inilah yang saat ini secara salah kaprah disebut jilbab oleh masyarakat umum indonesia.
Sobat muslim, hijab itu adalah pelindung Rasullah sashallahu 'alaihi wassalam bersabda (yang artinya)"Sesungguhnya Allah itu malu dan melindungi serta menyukai rasa malu dan perlindungan".
Sabda beliau yang lain (yang artinya)"Siapa saja diantara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya,maka Allah Azza wajalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya,"
Sobat muslim, hijab itu bukti taqwa seorang muslimah Allah subhanahu wata'ala berfirman (yang artinya),"Hai anak adam,!sesunguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaina indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa itulah yang paling baik (Q.S.Al-A'raaf:26).
Sobat muslim,selain kita para  muslimah menjalankan perintah dan kewajiban dari Allah swt kita harus banyak-banyak lagi belajar,kenapa?
karna dengan memakai jilbab dan kerudung kita harus berhati-hati pula supaya tidak bertabaruj.upz...apaan thu tabaruj?
Tabaruj adalah berhias secara berlebih-lebihan.


Nah, sobat muslim dari uraian diatas penulis sampaikan adalah syarat jilbab itu:


1) Terusan tidak potongan
2) Tidak ketat/membentuk lukuk tbuh
3) Tidak tipis dan tidak menerawang
4) Tidak berwarna dan bermotif terlalu menyolok.
Syarat khimar ( kerudung ) :


1) Hingga juyub/menutupi dada
2) Tidak tipis/tidak ketat
Jadi, menutup aurat itu adalah wajib bagi setiap muslim dan muslimah, berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa.
Sobat, seorang muslim yang jujur akan menerima perintah tuhannya dan dia langsung mengatakan ( Kami Dengar dan kami taat ) segera menjermahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan penghormatannya terhadap islam, bangga dan syariat-nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembalinya yang ia nantikan.
Semoga,yang belum berhijab segera berhijab dan mendapatkan hidayah dan rahmat dari Allah swt.Aamiin***

Oleh : Selvi Tridayani

Biodata Penulis
Nama saya selvi tridayani. Lahir di duri riau 19 september 1992. Menulis dan berbicara didepan umum adalah hobi utama saya, sampai saat ini cita-cita saya ingin menjadi penulis yang baik tidak hanya untuk diri saya sendiri tetapi juga untuk orang banyak. Saat ini saya masih kuliah semester tujuh jurusan PAI (Pendidikan agama islam) Di Stai Hubbulwatan Duri Riau.

Medsos Penulis
Facebook :selvitridayani@yahoo.co.id
Blog :selvitridayani019@gmail.com

Senin, 07 Desember 2015

Pesan Manis Buat Sang Pemimpin

Sumber Foto : facebook.com
WARTAKAMPUS, Opini - (Berkaca Pada Pola Kepemimpinan Umar bin Abd Aziz) Kurang lebih satu bulan lagi, sebagian besar masyarakat  Indonesia akan menjumpai sebuah pesta demokrasi yang membuat getaran tersendiri  di hati sanubari. Sebuah perhelatan  untuk mencari  sosok pemimpin tingkat II yang teladan.

Ketelaudanan seorang pemimpin merupakan suatu kemestian. Setiap orang merindukan hadirnya pemimpin yang ideal dan dapat diteladani. Kehadiran pemimpin dalam pepatah disebutkan sebagai  sosok yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting’

Secara historis  sosok  pemimpin yang dapat dijadian panutan sudah di jumpai, hal ini dibuktikan dengan kejayaan Islam  yang dibawa oleh Rasulullah dan kemudian dijawantahkan oleh Amirul mu’minin, Umar Bin Abdul Aziz rahimahullah. Sehingga beliau diangkat menjadi khalifah di tengah masyarakat yang hampir kehilangan pedoman hidup. Perilaku mereka menyimpang laksana binatang, perzinahan menyebar luas seakan dianggap hal yang pantas, demikian juga dunia peradilan seakan mati karena gagal  menjadi panglima di hati sanubari.

Eksistensi pemimpin yang dibawa oleh Umar Bin Abdul Aziz secara revolusioner telah melakukan perubahan yang signifikan dalam kultur sosial umat pada masa itu, yakni dari pola pikir subyektif menjadi konstruktif, kebiasaan konsumtif menjadi budaya produktif.  Kehebatan beliau telah menjadi contoh teladan yang baik kepada umat Islam seluruhnya sebagai pemimpin negara yang unggul. Kisah sejarahnya bahkan tercatat rapi di tinta emas dalam lipatan sejarah dari masa ke masa. oleh karena itu, tidak berlebihan jika Syeikh Khidariy Beik   mengabadikan dalam karyanya dengan sebutan khalifah yang adil sehingga diberi gelaran khulafa’ al-Rasyidin yang kelima.
Ada beberapa proyeksi yang patut dijadikan contoh dari  pola kepemimpinan beliau, antara lain:

Pertama  sifat tawadhu’ , hal ini terpancar di saat Umar bin Abdul Aziz didaulat untuk memegang pundak kekhalifahan,  terlihat jelas dari badannya sebagai sosok yang sederhana,  hal ini tercermin di saat usai dilantik beliau segera mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah.

Kedua sifat zuhud’,  Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.  Bukan sosok yang selalu  duduk manis di ruangan berhari-hari menikmati fasilitas yang serba fantastis.

Ketiga Akuntan Yang Jitu.Umar, Sang fiskalis yang mampu membuat kenangan, hingga orang-orang pun berkisah, “Dia tidak wafat, kecuali setelah membuat seluruh rakyatnya kaya.” Sebuah kesan, sekaligus tantangan bagi para ekonom muslim saat ini untuk mewujudkan kembali kejayaan ekonomi umat dan kesejahteraan masyarakat dunia. Yang jelas   seorang pemimpin yang  mampu memenej anggaran yang diamanahkan rakyat kepadanya dengan baik guna memakmurkan masyarakatnya.

Keempat tegas  dalam memilih, Khalifah Umar Abdul Aziz telah mengadakan beberapa reformasi dan rancangan-rancangan yang begitu menyeluruh dalam semua bidang.  diantaranya meletakkan pejabat sruktur yang sesuai dengan kemampuannya. Karena beliau sadar betul jika dalam menjalankan roda pemerintahan  apabila diberikan kepada mereka  yang tidak cakap maka kehancuran akan tiba. Bukan Justru meletakkan sanak keluarga, bahkan isteri tercinta di singgasana. Hal ini senada dengan sabda Nabi   “Apabila dalam suatu urusan diberikan kepada yang tidak ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (H.R. Bukhari) 

Kelima,  Komunikator Handal, Kedekatan dan komunikasi dengan umat menjadi ide dasar    dalam kepemimpinan Islam. Ide ini mengajarkan bahwa tidak boleh ada jarak (gap) antara pemimpin dan umat. Berbagai masalah yang muncul belakangan ini, seperti maraknya paham dan aliran sesat, radikalisasi agama, anarkisme, dan lain-lain, ditengarai karena tak adanya komunikasi antara pemimpin dan umat. Pemimpin memang wajib berkomunikasi dengan umat. Oleh sebab itu, pemimpin dalam pandangan Islam, tak boleh bisu, tetapi ia wajib memiliki sifat tabligh.

Pemimpin harus menjadi milik seluruh rakyat, bukan titipan daerah dan perahu dengan warna bendera yang kental pada pola kepemimpinannya. Tidak bangga dengan jabatan, tidak hebat dengan pangkat, sebab malapetaka akan tiba bagi mereka yang suka bedusta, tapi keindahan akan selalu hadir bagi pemimpin yang suka berhati mulia.

Pemimpin perlu memiliki sikap yang independen dalam memilih dan menempatkan ‘punggawa’ yang menjadi perpanjangan tangan kekuasaannya dalam memakmurkan Bumi Melayu. Pemimpin harus bijak dalam menempatkan posisi sesuai kualitas dan profesionalisme yang dimiliki para ‘punggawanya’. Bila pemimpin tidak memiliki sikap independen, maka ia bagaikan ‘wayang’ yang bergerak sesuai kepentingan dan keinginan si dalang yang punya cerita.

Kini saatnya paradigma pemimpin mengalami revitalisasi sebagai leadhership yang handal, bukan dipaksakan dengan ‘karbit’ kepentingan dan keinginan semata. Hanya pemimpin yang sebenar-benarnya memiliki jiwa pengayom layak disebut sebagai pemimpin. Dibahunya tersemat amanah, dihatinya bersemayam ibadah dan keikhlasan, difikirannya tertanam kualitas inteletual untuk memikirkan kemashlahatan umat, serta pada gerak kebijakannya terpancar kearifan yang berkeadilan.   Wallahua’alam bishowab.

Muhammad Ashsubli (Dosen STAIN Bengkalis)